Anak pengganti suami

Keadaan di rumah jadi berubah setelah sebuah pertanyaan terlontar darinya di malam itu. Aku dan Riri telah menikah selama 21 tahun, kami mempunyai seorang anak lelaki, Angga. Riri adalah seorang ibu rumah tangga dan sejauh yang kutahu dia selalu setia. Waktu itu kami sedang membaca di atas tempat tidur untuk menghabiskan malam, saat dia menanyakan pertanyaan yang tak terpikirkan itu.

“Apa kamu pernah menyetubuhi ibu kandungmu?”

“Pernah apa?” aku bereaksi dengan terkejut.

“Kamu mendengarnya.” lanjutnya.

“Waktu kamu muda dan masih ikut orang tua, pernahkah kamu bersetubuh dengan ibu kandungmu?”

“Pertanyaan seperti apa itu?” tanyaku.

“Ini bukan pertanyaan mengada-ada.. Kenyataannya itu hal yang kerap terjadi, cuma orang-orang tak mau membicarakannya. Saat kamu muda aku dapat mengerti jika kamu menyimpan rahasia seperti itu, jadi ayahmu tak mengetahuinya, tapi itu sudah berlalu dan kupikir kamu dapat menceritakannya pada isterimu sekarang, kan?” tanyanya.

“Tidak, aku tak pernah melakukannya dengan ibuku. Dan aku yakin itu hal yang tabu dan melanggar hukum.” aku menegaskan. Isteriku terdiam.

“Yah, jadi itu tak layak dan kemarin aku dengar 90% orang yang menikah mengakui pernah melakukannya.” jawabnya.

“Jadi, aku harap perkawinan kita salah satu dari yang 1% itu.” kataku.

Riri memejamkan matanya dan tersenyum.

“Jadi kamu setidaknya mempunyai fantasi untuk melakukannya kan?” tanyanya.

“Tidak, aku tak pernah membayangkannya, demi Tuhan dia adalah ibu kandungku!” aku berteriak. Isteriku menggelengkan kepalanya.

“Pembohong.” katanya.

“Sebagian besar remaja berfantasi untuk menyetubuhi ibunya, ini kenyataan yang umum. Kamu berfantasi untuk menyetubuhi ibumu seperti halnya Angga yang berfantasi untuk menyetubuhiku.”

“Riri, itu gila, bagaimana kamu dapat beranggapan seperti itu terhadap anakmu sendiri?” tanyaku.

“Karena itulah kenyataannya.. Angga tak berbeda dengan remaja lain seumurannya yang bermimpi tentang apa yang ada di antara paha ibu mereka saat ayah mereka pergi kerja. Itu benar-benar alami.” katanya.

“Kamu tak tahu tentang hal itu.” kataku.

“Sayang, percayalah padaku, aku adalah ibunya dan seorang ibu tahu hal-hal seperti itu.” katanya.

“Oh, ayolah Ri, kamu bertingkah sepertinya kamu tahu apa yang anak-anak pikirkan.” kataku. “Seorang ibu biasanya tahu lebih dari apa yang kamu kira.” katanya.

“Oh, benarkah, jadi apa yang kamu tahu tentang Angga yang tak kumengerti?” tanyaku jengkel.

“Aku tahu kalau dia bermasturbasi tiga kali sehari, kadang empat kali. Dia berfantasi sedang menggesekkan penisnya di antara pahaku. Dia mengambil keranjang cucianku saat aku dan kamu sedang pergi dan senang menghirup dan menghisapi celana dalamku yang kotor. Dia juga senang dengan wanita yang berdada besar, terutama yang sedang hamil.. Apa kamu mau tahu lebih banyak lagi?” tanyanya. Aku terdiam oleh perkataannya.

“Bagaimana kamu tahu semua itu?” tanyaku. Riri tersenyum puas.

“Seorang ibu mempunyai caranya sendiri.” jawabnya

“Yakin kamu tak membicarakan dengannya tentang hal ini?” tanyaku.

“Sayang, segera setelah kamu pergi kerja dan melakukan pekerjaan hingga tak begitu memperhatikan Angga dan aku, seorang ibu dan anak mempunyai dunianya sendiri di sini di rumah, yang tak harus diperhatikan oleh seorang anak.” katanya.

“Riri, kamu dan Angga tidak..” aku tak dapat menyelesaikan.

“Bersetubuh?” dia berkata dengan tersenyum.

“Jika aku menyetubuhi anakku sendiri, artinya aku sangat menarik baginya. Itu bukan topik yang akan dibicarakan seorang isteri pada suaminya.” Aku mulai merasakan darahku bergolak.

“Riri, tolong katakan padaku, ya atau tidak. Apa kamu dan Angga telah melakukannya?” aku mendesaknya. Seiring wajahku memerah, isteriku tertawa dan menjulurkan jarinya ke wajahku dengan lembut.

“Sayang, kamu membuat hal ini jadi rumit. Ini sangat mengganggumu ya?” dia bertanya sambil menahan tawanya.

“Aku hanya berpikir kalau aku berhak untuk tahu!” kataku.

“Tidak, kamu tidak perlu mengetahuinya. Sayang, aku mencintaimu, sebagai ayah dan suami, tapi tidak ada tempat di antara hubungan antara seorang ibu dan anaknya. Apa yang terjadi di rumah ini saat kamu pergi bukanlah urusanmu dan tak perlu perhatianmu. Kalau seorang ibu dan anaknya di rumah ini bersetubuh, maka kamu tak berbeda dengan ayah yang lainnya dan tak akan pernah tahu tentang itu.” katanya. Dia memberiku sebuah senyuman hangat.

“Kamu sudah capek dan kamu punya hari yang sibuk besok. Tidurlah sekarang.” katanya.

Malam itu aku tak benar-benar bisa tertidur. Pagi harinya, aku bangun seperti biasa dan Riri menyiapkan sarapan untukku dan mengantarku sampai pintu depan. Dia memakai baju terusan yang membuat payudaranya begitu terlihat indah menantang. Aku lihat Angga turun dari tangga dengan mengenakan celana pendek.

“Dia bangun lebih awal.” kataku.

“Ya, aku bilang padanya dia bisa bantu ibunya mengecat kuku dan mencuci baju yang kotor.” dia berkata sambil meringis. Perutku melilit.

“Jadi apalagi yang kalian kerjakan hari ini?” tanyaku curiga.

“Oh, aku yakin kami akan menemukan sesuatu yang bisa mempererat hubungan kami.” jawabnya sambil tersenyum lebar.

“Lebih baik kamu segera berangkat, sayang. Kamu nanti bisa terlambat lho.” Aku berjalan keluar dengan membanting pintu.

Waktu aku berjalan ke mobil, aku dengar isteriku mengunci pintu di belakangku dan berpikir dunia macam apa yang telah dibuat isteriku bersama Angga saat aku tak ada. Tanpa sadar, penisku terasa mengeras dari balik celanaku. Sial, seharusnya aku lebih dekat dengan ibuku! Seharian itu aku tak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan. Otakku dibakar oleh beribu pertanyaan. Apakah isteriku dan anakku yang berumur 18 tahun berbuat gila? Akhirnya, siangnya aku ambil telepon dan memutar nomor rumahku agar aku bisa tahu dengan jelas apa yang mereka kerjakan di dunianya. Setelah cukup lama tak ada yang mengangkat, akhirnya terdengar suara isteriku di sana.

“Hh.. Halo..” Dia berkata. Aku dapat mendengarnya bernafas dengan susah.

“Halo sayang, ini aku.” jawabku. Terdengar suara ganjil berulang-ulang di belakang, seperti suara kulit yang beradu dengan kulit.

“Sayang, a.. aku tak bis..” dia mencoba bernafas dengan susah.

“Aku tak bisa bicara sekarang, telepon aku lagi saja nanti.” lanjutnya. KLIK!! Dia tutup teleponnya.

Perutku tiba-tiba saja jadi terasa mulas. Aku tak pernah membayangkan isteriku akan berselingkuh, apalagi dengan anak kami yang masih remaja. Mungkinkah itu? Aku pulang kerja lebih awal hari itu. Aku ingin mengadakan penyelidikan. Aku harus yakin. Aku lalui jalan hanya untuk melihat isteri dan anakku yang keluar dari jalan dengan minivan isteriku. Aku ikuti mereka ke mall pada sisi lain kota ini. Dengan mengendap, aku masuki mall itu dan mengikuti mereka dari belakang. Aku terkejut saat melihat mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra, layaknya sepasang kekasih yang sedang belanja. Tingkah laku isteriku seperti seorang gadis remaja saja. Aku mengikuti isteri dan anakku yang berkeliling di seluruh mall ini, bergandengan tangan seperti remaja yang sedang kasmaran. Paling tidak, dia sudah tak muda lagi, umurnya sudah 38 tahun dan sudah menikah dan yang satunya anak muda yang baru berumur 18 tahun. Walaupun begitu, isteriku dapat mengimbanginya. Dia tak pernah semesra itu denganku, tapi benar-benar lain dengan anakku. Aku jadi lebih terkejut lagi saat mereka duduk berdua di bangku itu. Lengan isteriku melingkar di pundaknya, membelai mesra rambutnya. Bibirnya mendekat, membisikkan padanya sesuatu yang dapat kukira hanyalah cumbuan tentang seks. Aku tak mahir dalam hal membaca gerak bibir, tapi sungguh jelas sekali kalau yang keluar kebanyakan hanyalah ‘bersetubuh, penis dan vagina’ dari mulut isteriku. Kalau itu belumlah cukup, isteriku melepaskan sandalnya dan menggerakkan kakinya pada betis anakku. Setiap sekali gerakan disertai dengan tiupan dan ciuman ringan di leher anakku. Mereka meninggalkan mall dan aku memastikan kalau aku akan mengikuti mereka pulang, tapi mereka tidak pulang. Isteriku mengendarai mobilnya membawa mereka keluar kota sampai ke hutan. Dia berhenti di jalanan yang sedikit berlumpur dan itu membuatku terperanjat saat mengetahui kemana dia akan membawanya. Mereka akan pergi ke bagian rahasia di hutan ini, tempat dimana aku dan isteriku biasanya berkencan dulu. Tahu tepatnya tempat itu, aku parkirkan mobilku dan melanjutkan membuntuti mereka dengan berjalan kaki. Lima belas menit kemudian aku menemukan van isteriku terparkir di bawah semak-semak. Aku juga melihat mereka tak mau menyia-nyiakan waktu sedikit pun. Jendela mobil tertutup rapat dan van itu terlihat bergoncang-goncang. Aku mendekat dan segera saja telingaku menangkap erangan-erangan mesum mereka.

“Oh, ya.. Lebih keras, sayang, setubuhi ibumu dengan benar!” isteriku merajuk.

“Oh Tuhan, tekan!! Kerjai vaginaku, sayang!!” dia berteriak.

“Hahh, dorong penis besarmu lebih dalam lagi.. Oouuhh!!” lanjutnya.

Dan bila kata-kata tak senonoh itu belumlah cukup, selang beberapa menit kemudian,

“Oh, rasanya sungguh nikmat dikerjai oleh pria jantan. Ya, begitu, lebih keras lagi.. Leb.. Bih dallaam!! Oh Tuhan aku keluar!! Aku keluar!!” Aku tak mampu menerimanya lagi.

Yang dapat kulakukan hanya berbalik kemudian lari. Aku lari secepat yang kubisa menuju ke mobilku. Aku masih dapat mendengar isteriku menjerit dan mengerang, suaranya bergema dalam kepalaku. Aku nyalakan mobilku, hatiku mendidih, air mataku keluar. Aku menyetir dengan gila.. Dalam perjalanan pulangku, bayangan tentang anakku yang berada di antara paha isteriku menghantui aku. Apa yang harus kuperbuat? Malam itu aku dan isteriku berbaring berdampingan di ranjang perkawinan kami. Dia memegang sebuah majalah dan berpura-pura membacanya. Tak lama kemudian dia meletakkan majalah itu dan menatapku.

“Sayang, ada sesuatu yang harus kuceritakan padamu.” katanya.

“Apa?” tanyaku, bersiap untuk hal terburuk, setidaknya dalam hal ini tak ada yang akan mengejutkanku.

“Aku hamil.” dia berkata dengan senyuman mengembang.

Tak sekali pun dalam setahun belakangan ini aku menggauli istriku tanpa kondom. Dia tahu itu, aku tahu itu, dan dia pasti juga tahu bahwa aku mengetahuinya.

“Ini bukan bayiku, kan?” tanyaku. Senyumnya hampir menyerupai seringai.

“Tidak.” jawabnya.

“Angga?” kejarku. Istriku menjadi serius.

“Sebelum kamu pergi, biarkan aku mengingatkanmu kalau ayahku adalah seorang pengacara dan jika kamu menceraikanku, kamu tahu bahwa Angga dan aku akan mendapatkan ini semua, segalanya, dan kamu tak mendapatkan apa pun.” Ancamnya.

“Sudah berapa lama kalian berdua melakukan ini?” aku bertanya.

“Kamu tidak perlu tahu itu. Yang harus kamu ketahui sekarang adalah bahwa Angga dan aku telah memutuskan ada hal-hal yang perlu diubah.” katanya.

“Seperti apa?” tanyaku dengan marah.

“Yah, pertama, kami akan mempertahankan bayi ini dan ya, ini memang bayiku dengan Angga.” jelasnya. “Yang kedua, Angga akan pindah ke kamar ini dan berbagi tempat tidur denganku, dan sebaliknya mulai sekarang kamu tidur di tempat tidurnya Angga.” lanjutnya. Aku hanya bisa menahan amarah.

“Dan yang ketiga, kalau kamu menolak, aku dan Angga akan pindah dan mengontrak sebuah rumah bersama dan menuntut uang cerai darimu.” katanya memojokkanku.

“Ini gila, kamu adalah istriku..”

“Ya, dan kamu suamiku, dan akan tetap seperti itu, tapi suami sebenarnya dan kekasihku sekarang adalah Angga. Dan kami memutuskan bahwa kamu harus tetap bekerja seperti biasanya sedangkan Angga dan aku akan tinggal di rumah membuat bayi, kami juga sudah memutuskan ingin mempunyai tiga orang anak lagi.” katanya.

“Kamu katakan padaku kalau aku bahkan tidak boleh tidur denganmu, isteriku sendiri?” tanyaku tak percaya.

“Tidak, maaf. Angga dan aku yang akan tidur di ranjang ini mulai sekarang.” Lalu dia memandang ke arah pintu.

“Angga, cintaku, apa kamu di sana?” panggilnya. Anakku masuk ke kamar dengan tas ransel berisi barang-barangnya. Dia memandang pada ibunya dan aku.

“Maaf, Ayah.” dia berkata dengan menyeringai.

“Sayang, kenapa kamu tidak pergi dan bersihkan dirimu sebelum naik ke ranjang.” kata isteriku. Perutku jadi mulas. Isteriku menatapku tajam.

“Kalau kamu tidak keberatan, aku ingin sendirian dengan ayah dari anakku. Ambil barang-barangmu dan pergilah ke kamarmu.” perintahnya.

“Sayang, tolonglah.. Kita bicarakan hal ini.” aku memohon.

“Tak ada yang perlu dibicarakan lagi. Aku minta maaf, Sayang, tapi sekarang kamu bukan lagi seorang kepala rumah tangga.” katanya.

“Aku akan berusaha, aku bersumpah.” ucapku putus asa.

“Jangan, Sayang! Kamu boleh berusaha semampumu tapi kamu tidak akan bisa menyamai bahkan hanya separuh dari Angga di atas ranjang. Kamu tak bisa memohon padaku, kamu tak memiliki stamina untuk itu. Suka atau tidak, kamu tidak memiliki barang yang cukup besar untuk pekerjaan itu.. Dan anakmu memilikinya.” Serasa sebilah pisau yang merobek hati.

Aku bangkit dari tempat tidur dan mengemasi barang-barangku. Angga keluar dari kamar mandi dan menempatkan dirinya di samping ibunya di ranjang. Dia berada di bawahnya dengan cepat, memeluknya erat hingga menekan payudaranya yang besar.

“Inilah suami baruku. Kemari dan bercintalah dengan isterimu yang sedang hamil” katanya.

Itu semua serasa mimpi buruk. Aku pandangi mereka berdua di balik selimut. Bisa kukatakan anakku sedang menempatkan dirinya di antara paha ibunya. Aku dapat mendengar mereka berciuman dengan hebatnya. Isteriku muncul dari balik selimut, memandangku.

“Sayang, dapatkah kamu matikan lampu dan menutup pintunya saat kamu keluar?” pintanya.

Aku hanya bisa mematuhinya. Malam itu aku rebah di tempat tidurku yang baru dengan mendengarkan teriakan-teriakan yang berasal dari kamar yang semula kutempati bersama isteriku. Erangan isteriku menggema di setiap sudut rumah. Semalaman itu aku dengar rangkaian rintihan tabu mereka. Isteri dan anakku sedang membuat bayi mereka dan akan menamakannya seperti nama ayahnya. Tahun demi tahun berlalu dan mereka telah memiliki 3 anak, semuanya laki-laki. Seiring waktu berlalu, anak-anak itu tumbuh jadi remaja, Angga tua telah menemukan seorang wanita muda yang cantik dan atas seijin ibunya boleh dinikahinya. Kemudian Angga pindah dan meninggalkan anak-anaknya bersamaku dan ibunya. Dalam beberapa tahun kemudian aku kembali pada kehidupan rumah tanggaku semula, hingga pada suatu malam saat kami sedang rebahan di atas tempat tidur seperti biasa, terdengar ketukan di pintu dan Angga muda, yang sekarang juga telah berumur 18 tahun, berdiri di sana dengan tas ranselnya. Isteriku, yang sekarang berusia lima puluhan meletakkan majalahnya dan kembali menoleh padaku dengan tersenyum.

“Kemasi barang-barangmu, sayang.” katanya. Isteriku kembali menatap tajam padaku.

Advertisements

Suamiku memberiku suami baru

Pujo (samaran 42 tahun) adalah teman sejak aku SMA yang kini menjadi suamiku. Kini setelah anak-anak kami sudah remaja (kini umurku 38 tahun) hidup kurasakan tambah sepi apalagi aku tinggal berdua dengan suami saja, anak-anakku sudah kuliah di lain kota. Suamiku adalah pria yang baik dan sukses sebagai karyawan PMA, meskipun jabatan tidak terlalu tinggi tapi kami hidup berkecukupan. Aku sendiri cukup waktu dan uang untuk merawat diri, sehingga meskipun aku tidak cantik namun orang bilang aku ini luwes tidak mboseni kalau dipandang suamiku bilang aku memang tidak cantik tapi ‘ayu’ apalagi kalau lagi orgasme.

Tinggiku cuma 160 cm dengan berat 56 kg agak gemuk orang bilang tapi dadaku montok sekali dengan puting yang merekah. Suamiku senang olah raga tenis dan golf kalau badan tidak terlalu tinggi 165 cm tapi cukup atletis dengan berat badan 63 kg. Urusan diranjang sebenarnya aku cukup bahagia karena suamiku orangnya telaten dan sabar dia selalu memberikan kesempatan dulu padaku untuk orgasme setelah itu baru dia melakukan penetrasi sampai aku orgasme yang kedua. Pengalaman ini terjadi karena rasa kesepianku di rumah sendiri akhirnya aku usul untuk menerima kost toh kamar anakku 2 kamar tidak ada yang nempati. Akhirnya suamiku sepakat dia yang cari dan kebetulan ada teman kenalannya seorang pengusaha yang biasa mondar-mandir Jakarta ke kotaku karena ada anak perusahaannya di kotaku. Pertimbangannya dari pada ke hotel boros karena kadang harus sampai dua minggu. Namanya Duta (samaran) keturunan arab dengan cina orangnya tinggi (176 cm 76 kg) besar dengan kulit putih tapi wajah arab kayak Omar Syarif dengan bulu diseluruh tubuhnya, orangnya sangat santun. Kami cepat akrab bahkan seperti keluarga sendiri karena makan malam kami selalu bersama bahkan pada waktu lapor Pak RT kami mengaku sebagai saudara. Oh iya aku panggilnya Dik karena umurnya baru 38 tahun. Bahkan jika suamiku dan Aku pergi berlibur ke Tawangmangu atau Bandungan dan pas ada di kotaku ia kami ajak. Begitu akrabnya kami sehingga tak jarang Dik Duta juga membantu kalau ada kerepotan dirumah sehingga lingkungan taunya memang adik saya. Untuk sehari-hari setelah berjalan 3 bulan kami makin akrab saja bahkan suamiku suatu hari, ketika kami ngobrol habis makan malam.

“Ajaklah Isterimu jalan-jalan kemari Dik Duta” celetuk suamiku

“Biar dia kenal mbakyumu” lanjutnya. Dik Duta hanya diam dan menghela napas panjang.

“Ada apa.. Ada yang salah?” lanjut Mas Pujo melihat gelagat yang kurang enak.

“E.. Anu Mas Aku sebenarnya duda, isteriku meninggal 3 tahun yang lalu dirumah cuma ada anak-anak dengan pembantu saja” jawabnya dengan mata berkaca-kaca.

Kami akhirnya tahu statusnya dan kami minta suatu ketika kalau liburan sekolah biar anak-anak diajak kebetulan anaknya 2 orang masih 7 tahun dan 4 tahun. Sejak itu keakraban kami tambah dekat bahkan suamiku sering membisiki aku kalau keturunan arab biasanya barangnya besar dan panjang. Akupun merasa Dik Duta makin memperhatikan aku, pernah aku dibawakan hadiah liontin permata yang cantik. Bahkan sehari-hari kami makin terbuka misalnya ditengah guyonan, kadang kadang Dik Duta seolah mau memelukku dan bahkan sembunyi-sembunyi berani menciumi pipiku kalau mau pamit pulang Jakarta. Demikian pula sebaliknya Mas Pujo seolah membiarkan kami bercengkarama kadang kadang bahkan ngompori.

“Ooo mabkyumu itu biar STW tapi malah tambah punel (maksudnya memeknya) lho Dik Duta” Kalau sudah begitu aku yang merah padam, tapi untungnya hanya kami bertiga.

Seperti kebiasan kami, pada hari libur Sabtu Minggu kami bertiga weekend di kebun kami di Tawangmangu. Walaupun tidak terlalu luas namun kebun ini cukuplah untuk hiburan dan cukup nyaman untuk beristirahat. Entah apa sebabnya Mas Pujo hari itu dengan manja tiduran berbantal pahaku di depan Dik Duta setelah selesai makan malam sambil menonton TV dan ngobrol kesana kemari diruang keluarga. Kulihat Mas Pujo sangat atraktif mempertontonkan kemesraannya di depan Dik Duta. Aku sebenarnya agak kikuk tapi karena sudah seperti adik sendiri aku bisa mengatasi perasaanku, lagian Dik Duta sudah sering melihat kemesraan kami sehari-hari dirumah. Kulihat Dik Duta acuh saja melihat tingkah laku Mas Pujo. Malah akhirnya Dik Duta mengambil inisiatif mengambil kasur dari kamar tidur untuk dihamparkan ke lantai. Akhirnya kamipun menonton TV sambil tiduran. Aku dan Dik Duta bersandar di dinding berjajar cuma berjarak setengah meter sedang Mas Pujo tiduran di pahaku. Acara yang ditayangkan kebetulan agak menyerempet-nyerempet hubungan suami isteri. Kulihat Dik Duta tidak bisa konsentrasi, ia lebih sering mencuri pandang ke arah dadaku yang saat itu hanya terbungkus daster. Aku pura-pura nggak tahu tapi aku sempat melihat arah tengah celananya yang aku yakin sudah setengah ereksi. Tiba-tiba Mas Pujo memeluk pahaku sambil mengusap usap tonjolan payudara dari luar baju daster yang kukenakan, aku bingung.

“Mas malu ah masa ada Dik Duta” protesku sambil melemparkan tangannya kasar.

“Ah nggak apa apa, wong Dik Duta juga pernah merasakan koq.” sahut Mas Pujo sambil senyum penuh arti ke Duta.

Duta tersenyum kecut. Aku melengos sebel tapi jujur saja rabaan Mas Pujo membuat aku on apalagi udara dingin Tawangmangu yang menusuk tulang. Sementara Mas Pujo malah nekat dan kepalanya yang menindih pahaku digeser ke arah selangkanganku, sehingga tak terhindarkan baju dasterku yang memang pendek makin tersingkap sehingga Duta makin leluasa melahap pahaku yang terbuka lebar..

“Mbak.. Aku.. Jadi ingin nih..” Duta bicara padaku.

Gila batinku aku benar-benar kaya kepiting rebus mendengar kata-kata Duta hampir saja aku tampar. Tapi Mas Pujo malah menimpali,

“Nggak pa-pa, ya Mam? Kasihan khan Dik Duta sudah lama lho nggak merasakan” sahutnya.

“Pap!! apa-apaan sih ini?!” sahutku nggak kalah seru.

“Papa boleh kok mam, papa ikhlas please, ..!” pintanya sambil mengedip ke Dik Duta.

Rupanya Duta tanggap langsung saja dia miringkan badannya, karena jarak kami cuma sejengkal maka langsung direngkuhnya belakang kepalaku dan diciumnya mulutku dengan paksa. Aku ingin menolak tapi Mas Pujo memegang tanganku dan meraba tengah CDku aku terombang-ambing antara nafsu dan nilai yang ada dalam diriku tapi aku makin terangsang, tanpa sadar malah kumiringkan tubuhku menghadap Dik Duta sehingga aku bisa berhadapan. Melihat reaksiku tanpa segan Dik Duta menyelusupkan tangannya dibalik dasterku untuk meremas remas buah dadaku sementara Mas Pujo tangannya sudah masuk CD untuk mengelus elus klitorisku yang menjadi titik kelemahanku. Mendapat serangan dua orang sekaligus sensasiku melambung tinggi ada kenikmatan yang tiada tara. Kucoba memberanikan diri meraba perut Duta dan turun kebawah pusar, ada rasa penasaran ingin tahu ukuran barangnya. WAU.. luar biasa rupannya sudah berdiri keras dan tidak pakai CD lagi tanganku tak bisa memegang semuanya genggamanku penuh itupun baru separonya. Ketika itu Mas Pujo melepaskan seluruh pakaiannya dan mencopoti dasterku, Duta melepaskan pakaiannya juga dan menggeser posisinya merapat ke arahku dari sebelah kiri kami berhadapan, sedangkan Mas Pujo memiringkan tubuhnya yang bugil sebelah kanan (belakangku), sehingga dengan sendirinya kontol Mas Pujo yang sudah kencang menempel bokongku dan kontol Duta yang luar biasa panjang dan besar menempel pahaku karena Duta tak mau melepaskan pelukannya padaku jadi Mas Pujo hanya merogoh memekku dari belakang. Duta menciumi diriku sambil mengelus payudara penuh nafsu. Kulihat Duta yang penuh dengan gairah, aku ikut terhanyut. Aku tak sempat berfikir macam macam, nafsuku telah mendominasi pikiranku, kunikmati apa yang dilakukan Duta padaku tanpa menghiraukan Mas Pujo yang meremas-remas bokongku, dan mengelus vaginaku yang sudah basah. Aku mendesis desis tak karuan karena keenakan dengan tangan kanannya Duta mendekap punggungku erat erat, sedangkan tangan kirinya mulai menyibak vaginaku rupanya dia sudah nggak tahan ingin memasukkan kontolnya ke memekku. Dituntunnya penisnya ke arah lubang vaginaku, dan dalam tempo singkat aku sudah melayang kelangit ke tujuh menikmati kontol Dik Duta yang panjang besar meskipun ada rasa perih dan penuh menyesak di vaginaku namun kenikmatan yang kurasakan mampu membuatku melupakan rasa perih memekku. Otomatis jepitan lobang kemaluanku makin jadi dan denyutan-denyutan memekku yang selama ini dipuja oleh Mas Pujo dirasakan oleh Duta.

“Oh Mbak memekmu luar biasa, benar-benar punel Mbak” bisik Duta sambil mulai memompa batang kemaluannya secara ritmis.

Sementara aku mengimbangi mengocoknya perlahan lahan, Duta mendesis desis keenakan. Kini wajah Duta menghadap ke arahku dengan matanya yang terpejam sungguh tampan sekali apalagi desisannya membuatku benar-benar melayang. Gesekan bulu dada di ujung putingku membuatku seperti kesetrum listrik ribuan watt. Setelah hampir sepuluh menit Duta memompa memekku aku mulai kesetanan mau meledak tapi dia mulai mengendurkan pelukannya.

“Ganti posisi yuk Mbak, nggak adil kan masa yang punya (Mas Pujo maksudnya) nggak kebagian” bisik Duta padaku.

Duta melepaskan kontolnya dari memekku pelan-pelan terasa ada yang hilang dari selanggkanganku, Duta berdiri sambil membimbingku Mas Pujo masih ikut dibelangku sambil meremasi pantatku. Aku menoleh memandang suamiku penasaran ingin tahu reaksinya, tapi ternyata kulihat Mas Pujo begitu bahagia bahkan dia tersenyum.

“Kita main bersamaan ya Mas?” ajak Duta pada suamiku.

Duta mengambil posisi duduk bersandar di sofa dengan paha mengangkang, tampak kontolnya yang besar panjang dan kokoh dengan topi baja yang mengkilat karena cairan memekku berdiri seperti prajurit siap serbu, kemudian ia menyuruhku mengangkang diatasnya dengan menumpangkan pahaku pada pahanya sambil membelakanginya. Perlahan-lahan aku turunkan bokongku dan Duta membimbing kontolnya untuk memasuki memekku, bles, ahh.. Rasanya tambah nikmat dan sudah nggak perih lagi. Dengan posisi begitu maka dari depan mencuatlah klitorisku yang sudah keras dan kencang, perlahan-lahan aku mulai memompa dengan menaik turunkan bokongku, melihat pemandangan seperti itu Mas Pujo langsung duduk jongkok di depanku oh.. Ia menjilati klitorisku yang terbiar menantang. Oh.. Luar biasa sensasi yang timbul seluruh tubuhku bergetar kurasakan memekku makin berdenyut keras, kuraih kepala Mas Pujo kurapatkan ke selangkanganku sementara Duta terus menyodokku dari bawah.

“Ahh.. Aku mau meledak.. Mas.. Aku mau meladak..!!” Duta menggeram karena kontolnya kucengkeram dengan denyutan memekku yang makin kuat,.

Dan dengan sambil meremas-remas payudaraku, kurasakan kontol Duta dalam memekku berdenyut keras.

“Ahh Mbak aku mau keluar..” Ditariknya putingku sambil menyodokku dari bawah kuat-kuat sementara Mas Pujo melumat klitorisku.

Aku benar-benar tidak bisa menggambarkan kenikmatan yang kudapat ketika kontol Duta menyemburkan spermanya ke dalam memekku bersamaan orgasmeku dan hisapan-hisapan pada klitorisku. Belum selesai sensasiku Mas Pujo menarikku dan memintaku nungging. Ini kebiasaan Mas Pujo dia mau memompaku kalau aku sudah orgasme katanya enak sekali kedutan-kedutan memekku kalau orgasme. Aku mengambil posisi nungging dengan bertumpu pada kedua paha Duta pas kontolnya yang berlendir-lendir di mukaku langsung saja aku bersihkan sementara Mas Pujo mulai memasukkan kontolnya yang meskipun tidak panjang tapi kepalanya sangat leber sehingga seperti klep pompa. Kurasakan sensasi yang lebih hebat lagi ketika Mas Pujo mulai memompaku dari belakang. Hampir saja kugigit kontol Duta kalau saja Duta tidak berteriak, mengaduh. Entah aku merasa tidak kuat lagi menahan ledakankanku yang berikutnya dan segara saat kontol Mas Pujo mulai berkedut-kedut akan menyemburkan spermanya akupun juga merasakan diriku akan meledak lagi. Dan aahh dengan teriakan panjang Mas Pujo menyemprotkan spermanya ke dalam memekku. Aku segera berbalik untuk membersihkan kontol Mas Pujo, rasa sperma dua orang laki-laki yang bercampur membuat lidah merasa aneh dan asing. Kami terkulai lemas tapi aku merasa lapar dengan tetap bugil aku kedapur untuk masak kulihat dua orang laki-laki itu berpelukan saling menepuk punggung.

“Gimana dik?” lamat lamat kudengan suara Mas Pujo menanyakan kesannya pada Duta.

“Wah luar biasa Mas, aku nggak nyangka kalau Mbak Rin.. Begitu hebat, pantas Mas Pujo tidak pernah jajan” timpal Duta.

“Begini aja dik, Dik Duta nggak usah sungkan lagi sekarang ini mbakyumu ya isterimu, tapi janji Dik Duta nggak boleh jajan, aku jijik kalau mbayangkan Dik Duta jajan” sambung Mas Pujo.

“Sumpah Mas aku nggak pernah jajan sepeninggal isteriku, pernah pembantuku aku pakai itupun cuma sekali selebihnya aku pake alat” lanjut Duta.

“Jadi janji betulan lho dik, dan kita nggak boleh cemburu, satu sama lain..”

“Eh.. Enak aja ngomongin nasib orang nggak ngajak yang diomongin” aku langsung protes nglendot di pangkuan Mas Pujo.

“Tapi Mama setujukann..” lanjut suamiku.

“Mmm.. Gimana.. Ya.. Mmm” sengaja kubuat-buat jawabanku aku ingin melihat reaksi Duta.

“Maaf Mbak, kalau Mbak nggak setuju aku nggak pa-pa kok Mbak” Duta memelas.

“Habis.. Habis..” jawabku nggak kulanjutkan.

“Habis apa Mbak?” Duta panasaran.

“Habis.. E n a a k hi.. Hi.. Hi..” jawabku sambil cekikikan.

Duta langsung menubrukku yang masih dipangkuan Mas Pujo, tanpa sungkan lagi diciumnya bibirku diremasnya dadaku kulihat kontolnya sudah ngacung.

“Eh.. Makan duluu.. Ah aku lapar nih.. Nasi goreng sudah masak tuh di meja” pintaku.

Duta menghentikan cumbuannya terus membopongku ke kursi makan sambil memangkuku dia menghadapi meja makan sementara Mas Pujo mengikuti dari belakang dan mereka duduk berimpitan kursi. Aku membagi bokongku diatas kedua paha mereka yang berhimpitan satu berbulu yang satu agak licin. Mereka dengan sabar bergantian menyuapi aku. Aku benar-benar bahagia mereka berdua sekarang suamiku, yang siap memuaskanku. Selesai makan kusiapkan sikat gigi dan odol buat mereka. Aku mendahului membersihkan diriku di kamar mandi sperma yang kering berleleran di pahaku terasa lengket. Setelah itu aku ke kamar utama menyisir rambutku di depan cermin. Tak lama kemudian kulihat mereka berdua mengendap-endap beriringan masuk kamar aku seolah tak melihat. Kurasakan elusan lembut sebuah tangan dengan bulu-bulu halus menelusuri bokongku, bahkan kemudian mengarah keselangkangan dan mengelus memekku. Aku sudah bisa menduga pemilik tangan itu, dan hatiku berdesir ketika kulihat tangan Dutalah yang sedang mengelus belahan memekku, dan Mas Pujo mengelus batang penisnya, sambil mulutnya menciumi dadaku. Sambil berubah posisi dengan setengah duduk di depanku Mas Pujo siap dengan selangkanganku yang terbuka lebar memperlihatkan vagina merah basah yang sangat indah, sementara tangan kanannya menggosokan gosokkan kemaluanya, sementara Duta tidak tinggal diam buah dadaku yang menggantung diremas remas dan diciumi dari belakang. Duta merubah posisinya dengan duduk di meja rias dengan kontol siap dimuka mulutku. Sekarang aku baru bisa mengukur panjangnya kontol Duta yang ternyata ada dua kepalan tanganku dengan kepala agak meruncing dan diameter kepala bajanya lebih kecil dari punya Mas Pujo. Langsung kugenggam dan kujilati dan kukocok-kocok. Begitu kulakukan sampai hampir setengah jam dan dalam waktu yang tidak terlalu lama gerakan Duta tak terkendali, bahkan ia membalas menekan kepala Mas Pujo yang sedang mengenyot klitorisku dibawah meja pada saat itulah Duta menghentak hentakkan pinggul dan menyorong-nyorongkan kontolnya dimulutku dan.. Croot.. Croot.. Croot.. Sperma Duta memenuhi kerongkonganku. Dia telah orgasme.

Ini terlalu cepat, padahal aku merasa masih belum apa-apa. Duta terus turun membopongku ke ranjang dan Mas Pujo sekarang menindihku semetara Duta mempermainkan ku dari bawah ah rupanya mereka telah kompak untuk kerja sama memuaskan diriku. Mas Pujo sudah terlengkup di tubuhku sementara pinggulnya naik turun mengocok batangnya yang sudah melesak ditelan liang kenikmatanku. Sekali kali tangannya meremas bokongku. Aku mulai on lagi dan otot-otot vaginaku mulai berdenyut-denyut tapi tiba-tiba Mas Pujo menghentikan kocokannya, dan mencabut penisnya. Aku masih tanggung tetapi aku memang juga tidak ingin selesai sekarang, aku masih berharap Duta bangkit lagi setelah istirahat. Aku ingin Duta memompaku dulu baru Mas Pujo yang mengakhiri puncaknya. Tapi Mas Pujo minta aku dan Duta melakukan 69 dengan posisi Duta dibawah begitu aku posisi enam sembilan Mas Pujo menusukku dari belakang dan Duta ganti yang ngenyot klitorisku. Sungguh luar biasa rasanya ber 69 sambil memekku dipompa aku tak dapat menahan kenikmatan yang menyerbu lubang memekku. Denyutan-denyutan mencengkeram makin keras dan ini yang paling disukai Mas Pujo, kemudian kurasakan Mas Pujo mulai mencengkeram bokongku dan melenguh seperti sapi disembelih sambil mempercepat goyangannya, semetara mulut Duta tak henti menciumi klitorisku dan lidahnya menerobos kadang masuk ke memekku disela kontol Mas Pujo.

Nafasku tersengal, aku mulai masuk ke masa orgasme. Tanpa menunggu waktu lagi Mas Pujo mempercepat kocokannya dan kemaluankupun sudah berdenyut denyut kencang, segera akan keluar. Mas Pujo merengkuh bokongku, makin kencang sambil dari mulutnya keluar erangan kenikmatan yang panjang dan kemaluannya ditekan keras ke kemaluanku, dia semprotkan spermanya.. Crot.. Crot.. Crot tapi aku belum orgasme. Dan segera berlelehanlah air maninya menyemprot didalam vaginaku Pada saat yang sama, aku tak tahan menahan orgasmeku, kugenggam kontol Duta kuat-kuat dan kuhisap sampai batangnya sambil mengejan menikmati orgasmeku bersama Mas Pujo. Mendapat perlakuan begitu Duta juga orgasme kembali dan menyemburkan maninya ke mulutku untuk yang kedua kali. Kenikmatan yang luar biasa. Walaupun permainan sudah berakhir tetapi Mas Pujo tidak mau mencopot kemaluannya dari memekku, aku paham betul dia paling suka menikmati denyutan memekku.

“Pah.. Aku sudah nggak tahan.. Pahaahh.. Eghh.. Eegghh capek nih kasian Duta kita tindih”

Malam ini adalah malam pertama aku merasakan penis orang lain selain punya Mas Pujo apalagi penisnya lebih panjang, sebuah pengalaman yang sangat memuaskanku.

Memenuhi hasrat tante

Bukan salahku kalau aku masih menggebu-gebu dalam berhubungan seks. Sayangnya suamiku sudah uzur, kami beda umur hampir 15 tahun sehingga dia tidak lagi dapat memberi kepuasan sex kepadaku. Dan bukan salahku pula kemudian aku mencari pelampiasan pada pria-pria muda di luar untuk memenuhi hasrat seks-ku yang kian menggebu di usia 35 ini.

Dengan TB 170cm BB 58kg Bra 38C aku merasa sangat seksi dan sintal dengan payudara yang membusung besar ke depan dengan pantat njedol ke belakang apalagi perut ramping dan pinggul besar membulat menambahkan tubuhku yang bongsor ini semakin bahenol dan montok. Namun sepandai-pandainya aku berselingkuh akhirnya ketahuan juga. Suamiku marah bukan kepalang memergoki aku berpelukan dengan seorang pria muda sambil telanjang bulat di sebuah motel. Dan ultimatum pun keluar dari suamiku.

Aku dilarang olehnya beraktivitas diluar rumah tanpa pengawalan. Entah itu dengan suamiku ataupun anakku. Tak sedikitpun aku lepas dari pengawasan mereka bertiga. Secara bergantian mengawasiku. Aditya anak kakak sulungku yang baru masuk kuliah dapat giliran mengawasi di pagi hari karena dia masuk siang. Siangnya giliran Leni anakku sendiri yang duduk di kelas dua SMA, untuk mengawasiku. Dan malamnya suamiku kena giliran. Tentu saja aktivitas seks-ku pun terganggu total. Hasratku sering tak terlampiaskan, akibatnya aku sering uring-uringan. Memang sih aku bisa masturbasi, tapi kurang nikmat.

Dua minggu berlalu aku masih bisa menahan diri. Sebulan berlalu aku sudah stres berat. Bahkan frekuensi masturbasiku terus bertambah, sampai pernah sehari 10 kali kulakukan. Tapi tetap saja tak pernah mencapai kepuasan yang total. Aku masih butuh kocokan penis keras laki-laki. Seperti pada pagi hari Senin saat bangun pagi jam 8 rumah sudah sepi. Suamiku dan Leni sudah pergi, dan tinggal Aditya yang ada di bawah. Aku masih belum bangkit dari tempat tidurku, masih malas-malasan untuk bangun. Tiba-tiba aku tersentak karena merasa darahku mengalir dengan cepat. Ini memang kebiasaanku saat bangun pagi, nafsu seks-ku muncul. Sebisanya kutahan-tahan, tapi selangkanganku sudah basah kuyup. Aku pun segera melorotkan CD-ku lalu BH di dadaku sehingga susu montok besar mancung itu leluasa muntah keluar dan langsung aku menyusupkan dua jari tangan kananku ke lubang vaginaku. Vaginaku yang merekah kemerahan ditumbuhi rambut kemaluan yang hitam sangat lebat mulai dari bawah pusar sampai pada vaginaku yang seret ini membentuk segitiga hitam agak keriting. Aku mendesis pelan saat kedua jari itu masuk, terus kukeluar-masukkan dengan pelan tapi pasti. Aku masih asyik bermasturbasi tanpa menyadari ada sesosok tubuh yang sedang memperhatikan kelakuanku dari pintu kamar yang terbuka lebar. Dan saat mukaku menghadap ke pintu aku terkejut melihat Aditya, anak kakak sulungku, sedang memperhatikanku bermasturbasi. Tapi anehnya aku tidak kelihatan marah sama sekali, tangan kanan masih terus memainkan kemaluanku dan aku malah mendesah keras sambil mengeluarkan lidahku.

Aditya tampak tenang-tenang saja melihat kelakuanku. Aku jadi salah tingkah, tapi merasakan liang vagina yang makin basah saja. Aku turun dari tempat tidur dan berjalan ke arah Aditya. Tubuh bongsorku yang sintal berjalan dengan buah dada menari-nari ke kanan ke kiri mengikuti langkahku, dengan sesekali kebelai bulu kemaluan vaginaku menambah rangsangan pada Aditya kemenakanku itu. Anak kakak sulungku itu masih tenang-tenang saja, padahal saat turun dari tempat tidur aku sudah melepas pakaian dan kini telanjang bulat. Aku yang sudah terbuai oleh nafsu seks tak mempedulikan statusku lagi sebagai tantenya. Saat kami berhadapan tangan kananku langsung meraba selangkangan anak itu.

“Bercintalah dengan Tante, Aditya!” pintaku sambil mengelus-elus selangkangannya yang sudah tegang. Aditya tersenyum, “Tante tahu, sejak Aditya tinggal disini 6 bulan lalu, Aditya sudah sering membayangkan bagaimana nikmatnya kalo Aditya bercinta dengan Tante…”

Aku terperangah mendengar omongannya. “Dan sering kalo Tante tidur, Aditya telanjangin bagian bawah Tante serta menjilatin kemaluan Tante.”

Aku tak percaya mendengar perkataan kopanakanku ini. “Dan kini dengan senang hati Aditya akan ‘kerjai’ Tante sampai Tante puas!”.

Aditya langsung memegang daguku dan mencium bibirku dan melumatnya dengan penuh nafsu. Lidahnya menyelusuri rongga mulutku dengan ganas. Sementara kedua tangannya bergerilya ke mana-mana, tangan kiri meremas-remas payudaraku dengan lembut sementara tangan kanannya mengelus permukaan kemaluanku. Aku langsung pasrah diperlakukan sedemikian rupa dan hanya sanggup mendesah dan menjerit kecil. Puas berciuman, Aditya melanjutkan sasarannya ke kedua payudaraku. Kedua puting susuku yang besar coklat kehitaman dihisap anak itu dengan lembut. Kedua permukaan payudaraku dijilati sampai mengkilat dan aku sedikit menjerit kecil saat putingku digigitnya pelan namun mesra.

Aduh, tak henti-hentinya aku mendesah akibat perlakuan Aditya. Ciuman Aditya berlanjut ke perut dan diapun berjongkok sementara aku tetap berdiri. Aku tahu apa yang akan Aditya lakukan dan ini adalah bagian di mana aku sering orgasme. Yah, aku paling tak tahan kalau kemaluanku di oral seks. Aditya tersenyum sebentar ke arahku sebelum mulutnya mencium permukaan lubang vaginaku yang rimbun tertutup bulu kemaluan yang sangat lebat. Lidahnya pun menari-nari di liang vagina membuatku melonjak bagai tersetrum. Kedua tanganku terus memegangi kepalanya yang tenggelam di selangkanganku, saat lidahnya menjilati klitorisku dengan lembut. Dan benar saja, tak lama kemudian tubuhku mengejang dengan hebatnya dan desahanku semakin keras terdengar. Aditya tak peduli, anak itu terus menjilati kemaluanku yang memuncratkan cairan-cairan kental saat aku berorgasme tadi. Aku yang kelelahan langsung menuju tempat tidur dan tidur telentang.

Aditya tersenyum lagi. Dia kini melucuti pakaiannya sendiri dan siap untuk menyetubuhi Tantenya dengan penisnya yang telah tegang.

“Aaahhhh besar banget penismu, keras berotot panjang lagi. Tante suka penis yang begini ” sahutku takjub keheranan dan gembira karena sebentar lagi vaginaku akan dikocok penis yang gede dan panjang, kira-kira ukurannya panjang 20 cm diameter 4 cm.

Aditya bersiap memasukkan penisnya ke lubang vaginaku, dan aku menahannya, “Tunggu sayang, biar Tante kulum penismu itu sebentar.”

Aditya menurut. Disodorkannya penis yang besar dan keras itu ke arah mulutku yang langsung mengulumnya dengan penuh semangat. Penis itu kini kumasukkan seluruhnya ke dalam mulutku sementara dia membelai rambutku dengan rasa sayang. Batangnya yang keras kujilati hingga mengkilap.

“Sekarang kau boleh kocok dan genjot vagina Tante, Adit..” kataku setelah puas mengulum penisnya.

Diapun mengangguk, penisnya segera dibimbing menuju lubang vagina yang kemerahan merekah siap menerima tusukan penis besar nikmat itu. Vaginaku yang basah kuyup memudahkan penis Aditya untuk masuk ke dalam dengan mulus.

“Ahh.. Adit!” aku mendesah saat penis Aditya amblas dalam kemaluanku.

Aditya lalu langsung menggenjot tubuhnya dengan cepat, lalu berubah lambat tapi pasti. Diperlakukan begitu kepalaku berputar-putar saking nikmatnya. Apalagi Aditya seringkali membiarkan kepala penisnya menggesek-gesek permukaan kemaluanku sehingga aku kegelian. Berbagai macam posisi diperagakan oleh Aditya, mulai dari gaya anjing sampai tradisional membuatku orgasme berkali-kali. Tapi dia belum juga ejakulasi membuatku penasaran dan bangga. Ini baru anak yang perkasa. Dan baru saat aku berada di atas tubuhnya, Aditya mulai kewalahan. Goyangan pinggulku langsung memacunya untuk mencapai puncak kenikmatan. Dan saat Aditya memeluk dengan erat, saat itu pula air mani membasahi kemaluanku dengan derasnya, membuatku kembali orgasme untuk yang kesekian kalinya.

Selangkanganku kini sudah banjir tidak karuan bercampur aduk antara mani Aditya dengan cairanku sendiri. Aditya masih memelukku dan mencium bibirku dengan lembut. Dan kami terus bermain cinta sampai siang dan baru berhenti saat Leni pulang dari sekolah. Sejak saat itu aku tak lagi stress karena sudah mendapat pelampiasan dari keponakanku. Setiap saat aku selalu dapat memuaskan nafsuku yang begitu besar. Dan tidak seorang pun mengetahui kecuali kami berdua.

 

Bibi Ras yang kesepian

“Ma, minta susu. . !” teriak seorang bocah kepada mamanya.

“Iya bentar!” teriak mamanya dari dalam kamar.

Bocah kecil tersebut adalah anak dari mama yang disebut tadi. Kita sebut saja namanya Ras. Ras merupakan istri dari abang mama saya, mengertikan? Jadi saya seharusnya memanggilnya bibi tapi karena suatu alasan, dia kami panggil Mbak dan dia tidak keberatan kok dipanggil begitu.

Suaminya saat itu bekerja di luar negeri dan dia ditinggal di rumah mertuanya yaitu nenek saya. Suaminya telah lama pergi dan hanya pulang sekali dalam setahun. Pada saat itu umur saya baru akan menginjak 17 tahun dan sekolah di salah satu perguruan swasta di kota saya dan pada saat itu sekolah kami sedang libur, jadi otomatis di rumah sepi karena semua penghuni rumah sudah keluar entah ke mana.

Di rumah kami tinggal bersama nenek dan 5 orang sepupu saya yang tentu saja lebih kecil dari saya semuanya. Jam baru menunjukkan pukul 9. 00 pagi. Nenek saya sedang pergi ke pasar dan biasanya bila beliau ke pasar tidak pernah sebentar. Kelima sepupu saya sudah keluar dari tadi pagi jadi yang tinggal di rumah cuma saya dan Mbak Ras serta anaknya yang baru berumur 5 tahun. Saya dan Mbak Ras bisa dibilang sangat dekat karena kami sering berbicara dan bercanda bersama. Jadi di antara kami berdua sangat terbuka. Namun pada saat itu saya tidak berani berbuat macam-macam kepadanya, tapi kalau berpikir macam-macam sih pasti ada, he he he.

“Ma, buatkan susu dong!” celoteh bocah tadi menagih janjinya tadi.

“Iya, nih tiap hari minum susu aja. Susu mahal tau!” mamanya menyodorkan sebotol susu kepada anaknya dan diterima anaknya dengan gembira tanda bahwa dia tidak mau mengerti tentang kemahalan susu.

Memang anaknya setiap bangun tidur dan sebelum tidur selalu meminta susu. Kebetulan lagi pada saat itu saya baru selesai sarapan pagi dan timbul keisengan saya untuk bercanda kepada Mbak Ras.

“Saya juga minta susu dong Mbak!” kata saya sambil menyodorkan gelas kepadanya.

“Eh. . loe itu udah gede, itu kan susu buat anak-anak”, balas Mbak Ras.

“Lho, jadi kalau udah gede gak boleh minum susu?” tanya saya sambil pasang muka tak berdosa.

“Bukannya nggak boleh, tapi itukan susu buat anak-anak”, tegasnya sekali lagi.

“Jadi yang buat orang dewasa mana?” tantang saya kepadanya.

“Ini!” sambil menunjuk kepada buah dadanya yang sepertinya cukup besar dan padat itu.

Terang saja saya terkejut, dan saya pun malu karena dia tidak biasanya bercanda sampai begitu. Sebenarnya saya tahu kalau dia itu sebenarnya sudah sangat haus dengan seks. Bayangkan saja selama hampir setahun tidak berhubungan dengan suaminya, siapa yang tahan. Dan argumen saya ini juga telah saya buktikan. Kebetulan kamar saya yang berada di lantai 2 tepat di atas kamar mandi, dan lantai 2 hanya berlantaikan papan jadi iseng-iseng saya melubangi papan itu biar bisa mengintip orang mandi. Saya sering mengintip Mbak Ras mandi dari lubang itu dan saya lihat bahwa Mbak Ras sangat sering merangsang dirinya sendiri di kamar mandi, misalnya dengan memijat-mijat dadanya sendiri dan mengelus-elus kemaluannya sendiri. Jadi dari itu saya mengambil kesimpulan kalau dia sering terangsang.

“Kok bengong? mau minum susu nggak?” ucapnya membuyarkan lamunanku.

“Apa masih ada? anak Mbak kan udah lima tahun?” jawab saya menetralisir kekagetan saya.

“Gak tau dech. . kamu coba aja, hehehe. . udah dech. . ” katanya sambil melewati saya menuju kamar mandi kemudian berbisik sekilas kepada saya.

“Pintu kamar mandi nggak Mbak kunci. ”

Terang saja saya senang sekali, soalnya saya sering baca buku porno dan pernah berkhayal kalau saya melakukan hubungan badan dengan Mbak Ras dan sepertinya sekarang bisa terwujud. Saya membuka pintu kamar mandi perlahan dan saya lihat Mbak Ras sedang membelakangi saya menggantung pakaian yang akan dipakainya. Dengan perlahan juga saya tutup pintu kamar mandi dan menguncinya tanpa suara. Saya melihat Mbak Ras mulai membuka baju tidurnya tanpa membalikkan tubuhnya. Sepertinya dia tidak sadar kalau saya sudah berada di dalam. Setelah baju dilepas kemudian tangan saya menuju ke pengait BH-nya bermaksud membantu membuka BH-nya. Dia kaget karena tiba-tiba ada orang di belakangnya namun setelah mengetahui bahwa yang di belakangnya adalah saya dia tersenyum dan membiarkan saya melanjutkan kegiatan saya. Setelah BH-nya terbuka saya kemudian melemparkannya ke tong tempat baju kotor.

“Mbak, susunya boleh saya minum sekarang”, tagih saya kepadanya.

Dia hanya mengangguk dan kemudian membalikkan badannya. Terlihatlah olehku dua buah tonjolan di dalamnya yang selama ini belum pernah saya lihat secara langsung. Sebelumnya saya hanya mengintip. Kemudian dia menyodorkan dadanya kepada saya dan dengan cepat saya sambar dengan mulut saya. Dia hanya mendesis tidak jelas. Lama saya menghisap dan menjilat kedua dadanya membuat dia terus menggelinjang dan menjambak rambut saya. Dadanya kanan kiri secara bergantian menjadi korban keganasan lidah saya. Mbak Ras kemudian secara lembut membuka kaos saya dan tanpa saya sadari kaos saya sudah terlepas. Mungkin karena keasyikan meminum susu alam. Sementara tangan saya yang kiri mulai meraba-raba perutnya sedangkan yang kanan mengusap-usap dadanya yang sebelah kanan. Sementara mulut saya dengan menjulurkan lidah keluar mempermainkan puting susu yang sebelah kiri yang membuat Mbak Ras semakin ngos-ngosan. Tangan saya sebelah kiri mulai nakal dengan menyusupkan jari-jarinya ke celana tidurnya yang belum dibuka. Tangan Mbak pun tidak mau kalah, dia pun mulai mencari-cari sesuatu di selangkangan saya dan setelah menemukannya dia pijat dengan lembut. Kemaluan saya yang merasakan ada rangsangan dari luar celana semakin meronta minta keluar. Mbak Ras yang sudah berpengalaman itu kemudian membuka reitsleting celana saya dan kemudian melorotkannya ke bawah dengan menggunakan kakinya karena dia tidak bisa membungkuk sebab dadanya sekarang masih berada dalam kekuasaan saya. Setelah CD saya dibuka, tangannya yang sekarang lebih nakal mulai mengocok perlahan batang kejantanan saya dan itu jelas saja membuat saya terbang tinggi, sebab baru kali ini batang kejantanan saya yang satu ini dipegang oleh tangan seorang wanita yang lembut.

Mbak Ras makin menjadi ketika jilatan saya turun ke perutnya dan bermain di sekitar pusarnya dan kemudian dengan sekali tarik celana tidur yang dari tadi menghalangi pemandangan indah saya buka dan sekarang di depan saya berdiri seorang wanita hanya dengan celana dalam krem yang jika diperhatikan lebih seksama bisa dilihat transparan, tapi siapa yang sempat melihat ketransparanannya itu kalau sudah terangsang. Jilatan saya turun agak ke bawah menuju ke kemaluannya yang ditumbuhi bulu-bulu yang rapi namun karena sudah basah terlihat acak-acakan.

Saya menjilati liang kemaluannya dari luar CD-nya. Itu sengaja saya lakukan agar bisa lebih merangsangnya. Dan ternyata benar dia tidak sabar dan segera menurunkan CD-nya sendiri. Saya hanya tersenyum memandang ketidaksabarannya itu, dan jilatan saya lanjutkan tetapi tetap belum menyentuh lubang kenikmatannya itu yang membuat dia blingsatan dengan menggerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan yang bertujuan agar jilatan saya berlanjut ke liang kemaluannya. Saya lihat kemaluannya sudah banjir, karena tidak pernah merasakan cairan dari wanita maka jilatan saya pun merambah ke liang kemaluannya. Asin! tapi kok enak yah kata saya dalam hati. Mbak Ras pun kembali mendesis keenakan.

“Ahh. . terus Tango”, ujarnya.

Lidah saya pun mulai bermain cepat. Tiba-tiba tubuh Mbak Ras mengejang dan diikuti dengan desahan panjang, “Ahh. . nikmat sekati Tango. Pemanasan kamu sungguh hebat. ”

Kemudian dia pun duduk di lantai kamar mandi dengan perlahan. Setelah puas dengan kemaluannya, saya kembali ke atas dan mencoba untuk melumat bibirnya. Bibir yang dari tadi mendesis tidak karuan itu kemudian melumat bibirku yang baru saja sampai di depannya. Lama kami saling melumat sambil tangan kanan saya memainkan puting susunya dan tangan yang satunya lagi mencari lubang kewanitaannya dan menekan-nekan klitorisnya yang jelas saja membuat lumatan bibirnya semakin menjadi. Tangannya pun tidak mau kalah, sambil berpagutan dia mencari kembali batang yang tadi sempat dilepasnya karena kenikmatan yang dia rasakan. Setelah ketemu, kemudian dia mulai menggerak-gerakkan tangannya mengocok kemaluanku yang sudah sangat tegang dan membesar sambil sesekali mengusap bagian kepalanya yang sudah mengeluarkan cairan bening kental. Kemudian secara perlahan-lahan saya mendorong kepalanya ke belakang agar dia rebah ke lantai kamar mandi. Setelah dia rebah, Mbak Ras mendorong dada saya lembut yang membuat saya terduduk dan dia kemudian bangkit kembali.

Saya terkejut, saya mengira dia telah sadar dengan siapa dia sedang bermain, namun dengan seketika keterkejutan saya hilang sebab dia kemudian dengan sikap merangkak memegangi kelamin saya dan kemudian dia malah memasukkan kelamin saya ke mulutnya. Ahh. . terasa nikmat sekali sebab Mbak Ras sangat pandai memainkan kemaluan saya di dalam mulutnya. Saya bisa merasakan lidahnya bermain dengan lincahnya. Saya juga merasakan kepala kemaluan saya dipermainkan dengan lidahnya yang lincah itu. Setelah bermain lama di bawah situ, mulutnya kemudian merambah ke atas menciumi perut, kemudian dada saya dan kemudian kembali ke mulut saya, namun karena saya tahu dia baru saja melepaskan mulutnya dari kemaluan saya, saya berusaha menghindar dari lumatan bibirnya dan mencoba agar dia tidak tersinggung dengan mencium pipinya dan kemudian telinganya. Tangan saya yang menganggur kemudian saya suruh bekerja lagi dengan mengusap-usap selangkangannya dan terdengar dia berbisik kepada saya,

“Masukkan ahh. . sekarang yahh, Mbak udahh kepingin. . banget. . nih. . ahh. ”

Saya kemudian mengambil inisiatif dengan mendorong Mbak Ras agar kembali rebah dan dengan perlahan dia menuruti kemauan saya dengan rebahan di lantai kamar mandi. Saya kemudian mengambil segayung air dan menyiramkan ke tubuhnya dan kemudian satu gayung lagi untuk disiramkan ke tubuh saya sendiri. Setelah kami berdua basah, tangan kanan saya kemudian meremas-remas dadanya sedangkan tangan kiri saya memegang kejantanan saya menuju ke lubang sejuta kenikmatan. Mbak Ras pun sudah siap menerima terjangan saya dengan membuka kedua kakinya agar memudahkan saya memasukinya. Dengan perlahan tapi pasti saya mencoba untuk memasukkan kepunyaan saya yang dari tadi sudah tegak ke kemaluannya. Namun karena sudah lama dia tidak tersentuh laki-laki, membuat saya agak susah juga untuk menancapkannya. Beberapa kali saya arahkan batang saya, namun agak susah untuk berhasil, dan setelah beberapa tusukan, akhirnya kelamin saya masuk dengan sukses ke selangkangannya. Yah, cengkeraman liang kemaluannya sungguh nikmat, karena saat itu liang kemaluannya sangat sempit dan itu sudah membuat saya merem melek, dan dengan gerakan pelan saya mulai menaik-turunkan pinggul saya.

Saya melihat Mbak Ras mengerang kenikmatan sampai bola matanya hilang, dan dia juga meggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan dengan maksud agar semua ruang di liang kemaluannya terjejali dengan kemaluanku yang sudah mulai memompa. Setiap pompaan membuat dia mendesah tidak karuan. Setelah beberapa menit, dia kemudian memelukku dengan erat dan membalikkan tubuhku dan tubuhnya. Kini dia sudah berada di atasku, dan gantian dia yang menaik-turunkan pinggulnya mengejar kenikmatan yang tiada tara. Sementara itu tanganku yang sudah bebas kembali memainkan susunya dan mengusap-usap punggungnya.

“Ssaayyaa. . udah ahh. . mau. . keeluar nihh. . ” desahnya.

Mendengar desahannya yang begitu seksi saya semakin terangsang dan saya mulai merasakan ada sesuatu tenaga dalam yang ingin dikeluarkan dan semua sepertinya sudah terkumpul di kejantanan saya.

“Saya juga udah mau keluar Mbak. . !” desis saya mempercepat gerakan pinggul saya dari bawah.

“Tahann. . sebenntaarr. . ” katanya.

“Biaarr. . Mbak kee. . luar dulu. . ouhh. . ”

Saya pun mengerti untuk tidak mengeluarkannya di dalam, sebab dengan alasan apapun saya tidak mau sperma yang saya keluarkan ini menjadi anak dari rahim bibi saya. Saya berusaha untuk menahan, sesaat kemudian terasa cengkeraman di kelamin saya terasa kuat dan terasa hangat, tubuh Mbak Ras kembali mengejang. Kalau saya tidak mencabut kemaluan saya dengan sedikit mendorong perut Mbak Ras, mungkin saya pun akan mengalami orgasme bersamaan dengan Mbak Ras. Untung saja saya sigap, sesaat kemudian Mbak Ras terkulai lemas di atas tubuh saya menikmati sisa-sisa kenikmatan. Paha saya terasa hangat karena pelumas yang keluar dari liang kemaluan Mbak Ras. Saya pun memeluknya, dan membalikkan tubuhnya karena saya belum terpuaskan saya pun kembali merangsang Mbak Ras dengan jilatan di sekitar selangkangannya. Setelah berkisar 3 – 4 menit Mbak Ras kembali terangsang dan menyuruh saya memasukkan lagi kepunyaan saya ke dalam kemaluannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, langsung saya tancapkan ke dalam kemaluannya. Kali ini lebih mudah karena kemaluan kami berdua memang telah licin. Setelah memompa beberapa menit, saya kembali merasakan gelombang kenikmatan dan dengan segera saya mencabutnya dan mengocok-ngocoknya dengan tangan sendiri. Namun tidak disangka, Mbak Ras kemudian menangkap kemaluan saya dan menggantikan tangan saya dengan tangannya dan kemudian memasukkan kemaluan saya ke dalam mulutnya.

Ahh. . terasa sungguh nikmat, apalagi permainan lidahnya membuat saya tidak bisa bertahan lama dan akhirnya semua saya keluarkan di dalam kuluman mulutnya. Tapi saya tidak melihat dia melepaskannya, dia seakan tidak mau melepaskan kemaluanku yang sedang muntah dan dia menghisap habis semua muntahannya tanpa sisa. Setelah saya merasakan pelumas dari dalam tubuh saya habis, batang kemaluan saya pun perlahan-lahan kembali mengecil. Melihat hal itu, Mbak Ras kemudian melepaskan batang kemaluan saya, dan tersenyum kepada saya.

Kemudian dia berbisik, “Tango, terima kasih yah, Mbak udah lama nggak menikmatinya dari pamanmu, entar lain kali kalau ada kesempatan bisa kan kamu puasin Mbak lagi ?”

Dengan masih terduduk di lantai saya mengangguk sambil tersenyum nakal kepada Mbak Ras. Kemudian kami pun mandi sama-sama, saling membersihkan diri dan sesekali tangan saya bergerak nakal menyentuh payudaranya yang tadi pentilnya sempat mencuat.

Setelah kejadian pertama itu, kami pun sering melakukannya di hari Minggu atau hari-hari libur dimana keadaan rumah sedang sepi. Kadang di kamar mandi, kadang di kamarnya. Namun setelah beberapa bulan kami melakukanya dia mendengar bahwa suaminya yang di luar negeri sudah menikah lagi dan dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di Jakarta. Dan setelah kepergiannya atau lebih tepatnya kepulangannya ke Jakarta saya tidak pernah mendengar kabarnya lagi sampai sekarang.

Papa mertua yang menggairahkan

Frans, 56 tahun, dengan perutnya yang gendut yang kebanyakan minum bir, kepalanya mulai botak dan sudah menduda selama 10 tahun. Setelah rumahnya dijual untuk membayar hutang judinya, dia terpaksa datang dan menginap di rumah putranya yang berumur 28 beserta menantu perempuannya. Sekarang dia harus menghabiskan waktunya dengan pasangan muda tersebut sampai dia dapat menemukan sebuah rumah kontrakan untuknya.

Diketuknya pintu depan dan Ester, menantu perempuannya yang berumur 24 tahun muncul dengan memakai celana pendek putih dan kemeja biru dengan hanya tiga kancing atasnya yang terpasang, memperlihatkan perutnya yang rata. Rambutnya yang berombak tergerai sampai bahunya dan mata indahnya terbelalak menatapnya.

“Papi, aku pikir Papi baru datang besok, mari masuk”, katanya sambil berbalik memberi Frans sebuah pemandangan yang indah dari pantatnya. Dengan tingginya yang 175 itu dia terlihat sangat cantik. Dia mempunyai figur sempurna yang membuat lelaki mana pun akan bersedia mati untuk dapat bercinta dengannya.

“Johan masih di kantor, sebentar lagi pasti pulang.”

“Kupikir aku hanya tidak mau ketinggalan bus”, kata Frans sambil duduk.

“Tidak apa-apa”, jawab Ester sambil membungkuk ke depan untuk mengambil sebuah mug di atas meja kopi. Dengan hanya tiga kancing yang terpasang, itu memberi Frans sebuah pemandangan yang bagus akan payudaranya kelihatan sempurna. Memperhatikan hal tersebut menjadikan Frans ereksi dengan cepat dan dia harus lebih berhati-hati untuk menyembunyikan reaksi tubuhnnya. Ester duduk di sofa di depan Frans dan menyilangkan kakinya memperlihatkan pahanya yang indah. Posisi duduknya yang demikian membuat pusarnya terlihat jelas ketika dia mulai bertanya pada Frans tentang perjalanannya dan bagaimana keadaannya.

“Perjalanan yang melelahkan”, Frans menjawab sambil matanya menjelajahi dari kepala hingga kaki pada keindahan yang sedang duduk di depannya.Sudah lebih dari 5 tahun sejak Frans berhubungan seks untuk terakhir kalinya. Setelah isterinya meninggal Frans sering mencari wanita panggilan. Tetapi hal itu semakin membuat hutangnya menumpuk dan dia tidak mampu lagi untuk membayarnya. Ester menyadari kalau kemejanya memperlihatkan beberapa bagian tubuhnya pada mertuanya, maka dia dengan cepat segera membetulkan kancing kemejanya.

“Aku harus ke atas, mandi dan segera menyiapkan makan malam. Anggap saja rumah sendiri” katanya sambil berjalan naik ke tangga. Mata Frans mengikuti pantat kencangnya yang bergoyang saat berjalan di atas tangga dan dia tahu bahwa dia memerlukan beberapa ‘format pelepasan’ dengan segera. Kemudian telepon berbunyi.

Frans mengangkatnya.”Halo”.

“Hallo, ini Papi ya?”, itu Johan.

“Ya Jo”, jawab Frans.

“Pi, aku khawatir harus meninggalkan Papi untuk urusan bisnis dan mungkin nggak akan kembali sampai Senin. Ada keadaan darurat. Maafkan aku soal, ini tapi Papi bisa kan bilang ini ke Ester, aku harus mengejar pesawat sekarang. Maafkan aku tapi aku akan telepon lagi nanti”.

Mereka saling mengucapkan salam lalu menutup teleponnya. Lalu Frans memutuskan untuk menaruh koper-kopernya. Dia berjalan ke atas melewati kamar tidur utama, terdengar suara orang yang sedang mandi. Frans menaruh koper-kopernya dan pelan-pelan membuka pintu kamar tidur itu lalu menyelinap masuk. Ada sepasang celana jeans berwarna biru di atas tempat tidur, dan sebuah atasan katun berwarna putih. Frans mengambil atasan itu dan menemukan sebuah pakaian dalam wanita di bawahnya. Ini sudah cukup. Diambilnya celana dalam itu, membuka resluiting celananya dan mulai menggosok kemaluannya dengan itu. Jantungnya berdebar mengetahui bahwa menantu perempuannya sedang berada di kamar mandi di sebelahnya selagi dia sedang menggunakan celana dalamnya untuk ‘sarana pelepasan’ dirinya. Dipercepatnya gerakannya sambil mencoba membayangkan seperti apa Ester saat di atas tempat tidur dan bagaimana rasanya mendapatkan Ester bergerak naik turun pada penisnya.Frans hampir dekat dengan klimaksnya ketika dia mendengar suara dari kamar mandi berhenti. Dengan cepat Frans meletakkan pakaian itu ke tempatnya semula dan keluar dari kamar itu. Dia menutup pintunya tapi masih membiarkannya sedikit terbuka.

Baru saja dia keluar Ester muncul dari kamar mandi dengan sebuah handuk yang membungkus tubuhnya. Frans bisa langsung orgasme hanya dengan melihatnya dalam balutan handuk itu, lalu dia tahu dia akan mendapatkan yang lebih baik lagi. Ester melepas handuknya membiarkannya jatuh ke lantai, tidak mengetahui kalau mertuanya yang terangsang sedang mengintip tiap geraknya. Dia mendekat ke pintu saat dia pertama kali melihatnya Frans memperoleh sebuah pemandangan yang sempurna dari pantat yang sangat indah itu. Kemudian Ester memutar tubuhnya yang semakin mempertunjukkan keindahannya. Vaginanya terlihat cantik sekali dihiasi sedikit rambut dan payudaranya kencang dan sempurna, seperti yang dibayangkan Frans. Dia mulai mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk, membuat payudaranya sedikit tergoncang dari sisi ke sisi. Frans menurunkan salah satu kopernya dan menggunakan tangannya untuk mulai mengocok penisnya lagi. Ester yang selesai mengeringkan rambutnya mengambil celana dalamnya dan membungkuk ke depan untuk memakainya.Saat melakukannya Frans mendapatkan sebuah pemandangan yang jauh lebih baik dari pantatnya dan dia tidak lagi mampu mengendalikan dirinya, dia bisa langsung masuk ke dalam sana dan menyetubuhinya dari belakang. Lubang anusnya yang berwarna merah muda terlihat sangat mengundang ketika pikiran Frans membayangkan apa Ester mengijinkan putranya memasukkan penisnya ke dalam lubang itu. Ketika dia membungkuk untuk memakai jeansnya, gravitasi mulai berpengaruh pada payudaranya. Penglihatan ini mengirim Frans ke garis akhir saat dia menembakkan spermanya ke seluruh celana dalamnya. Pelan-pelan Frans mengemasi baarang-barangnya dan dengan cepat memasuki kamarnya sendiri untuk berganti pakaian.Sesudah makan malam mereka berdua pergi ke ruang keluarga untuk bersantai.

“Kenapa tidak kita buka sebotol wine. Aku menyimpannya untuk malam ini buat Johan tapi karena sekarang dia tidak pulang sampai hari Senin, kita bisa membukanya.” kata Ester sambil berjalan ke lemari es.

“Ide yang bagus”, jawab Frans memperhatikan Ester membungkuk ke depan untuk mengambil botol wine.

Ketika Ester mengambil gelas di atas rak, atasan putihnya tersingkap ke atas memberi sebuah pandangan yang bagus dari tubuhnya. Atasannya menjadikan payudaranya terlihat lebih besar dan jeansnya menjadi sangat ketat, memperlihatkan lekukan tubuhnya. Frans tidak bisa menahannya lagi. Dia harus bisa mendapatkannya. Sebuah rencana mulai tersusun dalam otak mesumnya. Dua jam berbicara dan mulai mabuk saat alkohol mulai menunjukkan efeknya pada Ester. Dengan cepat topik pembicaraan mengarah pada pekerjaan dan bagaimana Ester sedang mengalami stress belakangan ini.

“Kenapa kamu tidak mendekat kemari dan aku akan memijatmu”, tawar Frans.

Ester dengan malas berkata ya dan pelan-pelan mendekat pada Frans dan berbalik pada punggungnya lalu tangan Frans mulai bekerja pada bahunya.

“Oohh, ini sudah terasa agak baikan”, dia merintih.

Frans tetap memijat bahunya ketika perasaan mendapatkan Ester mulai mengaliri tubuhnya, membuat penisnya mengeras. Mata Ester kini terpejam saat dia benar-benar mulai menikmati apa yang sedang dilakukan Frans pada bahunya. Pantatnya kini berada di atas penis Frans, membuat Frans ereksi penuh.

“Oohh, aku tidak bisa percaya bagaimana leganya perasaan ini, Papi sungguh baik”.

“Ini keahlianku”, jawab Frans saat dia pelan-pelan mulai menggosokkan penisnya ke pantat Ester.

Ester menyadari apa yang sedang terjadi. Dia tidak menghiraukan apa yang Frans lakukan dengan pijatannya yang mulai ‘salah’ itu. Dia sangat mencintai suaminya dan tidak pernah akan mengkhianati dia. Dan bayangan tidur dengan mertuanya sangat menjijikkannya. Dia meletakkan kedua tangannya pada kaki Frans saat mencoba untuk melepaskan dirinya dari penis Frans. Tapi dengan gerakan malasnya, hanya menyebabkannya menggerakkan pantatnya naik turun selagi dia menggunakan tangannya untuk menggosok paha Frans. Tahu-tahu dia merasa sangat bergairah dan dia ingin Johan ada di sini agar dia bisa segera bercinta dengannya. Frans tahu bahwa dia telah mendapatkannya.

“Ini mulai terasa tidak nyaman untuk aku, kenapa kita tidak pergi saja ke atas”, ajak Frans.

“Baiklah, aku belum merasa lega benar, tapi sebentar saja ya, sebab aku tidak mau membuat Papi lelah”.

Ketika mereka memasuki kamar tidur, Frans memintanya untuk membuka atasannya agar dia bisa menggosokkan lotion ke punggungnya. Dia setuju melepasnya dan dia memperlihatkan bra putihnya yang menahan payudaranya yang sekal. Gairahnya terlihat dengan puting susunya yang mengeras yang dengan jelas terlihat dari bahan bra itu. Apa yang Ester kenakan sekarang hanya bra dan jeans ketatnya, yang hampir tidak muat di pinggangnya. Ester rebah pada perutnya ketika Frans menempatkan dirinya di atas pantatnya.

“Begini jadi lebih mudah untukku”, kata Frans saat dia dengan cepat melepaskan kemejanya dan mulai untuk menggosok pinggang dan punggung Ester bagian bawah.

Alkohol telah berefek penuh pada Ester ketika dia memejamkan matanya dan mulai jatuh tertidur.

“Oohh Johan”, dia mulai merintih.

Frans tidak bisa mempercayainya. Di sinilah dia, setelah 5 tahun tanpa seks, di atas tubuh menantu perempuannya yang cantik dan masih muda dan yang dipikirnya dia adalah suaminya. Pelan-pelan dilepasnya celananya sendiri, dan membalikkan tubuh Ester. Frans pelan-pelan mencium perutnya yang rata saat dia mulai melepaskan jeans Ester dengan perlahan. Vagina Ester kini mulai basah saat dia bermimpi Johan menciumi tubuhnya. Dengan hati-hati Frans melepas jeansnya dan mulai menjalankan ciumannya ke atas pahanya. Ketika dia mencapai celana dalam yang menutupi vaginanya, dia menghirup bau harumnya, dan kemudian sedikit menarik ke samping kain celana dalam yang kecil itu dan mencium bibir vagina merah mudanya. Vaginanya lebih basah dari apa yang pernah Frans bayangkan. Ester menggerakkan salah satu tangannya untuk membelai payudaranya sendiri, sedang tangan yang lainnya membelai rambut Frans.

“Oohh Johan”, dia merintih ketika sekarang Frans menggunakan lidahnya untuk menyelidiki vaginanya.

Penisnya akan meledak saat dia mulai menjalankan ciumannya ke atas tubuhnya.

“Jangan berhenti”, bisik Ester.

Dia sekarang menggerakkan penisnya naik turun di gundukannya, merangsangnya. Hanya celana dalam putih kecil yang menghalanginya memasuki vaginanya. Frans lebih melebarkan paha Ester, dan kemudian mendorong celana dalam itu ke samping saat dia menempatkan ujung penisnya pada pintu masuknya.

Pelan-pelan, di dorongnya masuk sedikit demi sedikit ketika Ester kembali mengeluarkan sebuah rintihan lembut. Sudah sekian lama dia menantikan sebuah persetubuhan yang panas, dan sekarang dia sedang dalam perjalanan ‘memasuki’ menantu perempuannya yang cantik. Dia menciumi lehernya saat menusukkan penisnya keluar masuk. Dia mulai meningkatkan kecepatannya, saat dia melepaskan branya. Frans mencengkeram kedua payudara itu dan menghisap puting susunya seperti bayi. Perasaan ini tiba-tiba membawa Ester kembali pada kenyataan saat dia membuka matanya. Dia tidak bisa percaya apa yang dia lihat. Mertuanya sedang berada di atas tubuhnya, mendorong keluar masuk ke vaginanya dengan gerakan yang mantap dan yang paling buruk dari semua itu, dia membiarkannya terjadi begitu saja.

Frans melihat matanya terbuka, maka dia memegang kaki Ester dan meletakkannya di atas bahunya dengan jari kakinya yang menunjuk lurus ke atas. Kini dia menyetubuhinya untuk segala miliknya yang berharga.

“Oh tidak.. Hentikan.. Oh.. Tuhan.. Kita tidak boleh.. Tolong.. Oohh”, Ester berteriak.

Payudaranya terguncang seperti sebuah gempa bumi ketika Frans menyetubuhinya layaknya seekor binatang.

“Hentikan Pi.. Ini tidak benar.. Oohh Tuhan”, Ester berteriak dengan pasrah.

Frans melambat, dia menunduk untuk mencium bibir Ester. Lutut Ester kini berada di sebelah kepalanya sendiri saat dia menemukan dirinya malah membalas ciuman Frans. Sesuatu telah mengambil alihnya. Lidah mereka kini mengembara di dalam mulut masing-masing ketika mereka saling memeluk dengan erat. Frans menambah lagi kecepatannya dan keluar masuk lebih cepat dari sebelumnya. Ester semakin menekan punggungnya. Frans berguling dan Ester kini berada di atas, ‘menunggangi’ penis Frans.

“Oh Tuhan, Papi merobekku”, kata Ester ketika dia meningkat gerakannya.

“Kamu sangat rapat, aku bertaruh Johan pasti kesulitan mengerjai kamu”, jawabnya.

Ini adalah vagina paling rapat yang pernah Frans ‘kerjai’ setelah dia mengambil keperawanan isterinya. Dia meraih ke atas dan memegang payudaranya, meremasnya bersamaan lalu menghisap puting susunya lagi.

“Tolong jangan keluar di dalam.. Oohh.. Papi tidak boleh keluar di dalam”. Ester kini menghempaskan Frans jadi gila.

Mereka terus seperti ini sampai Frans merasa dia akan orgasme. Dia mulai menggosok beberapa cairan di lubang pantat Ester. Dia kemudian menyuruh Ester untuk berdiri pada lututnya saat dia bergerak ke belakangnya, dengan penisnya mengarah pada lubang pantatnya.

“Tidak, punya Papi terlalu besar, aku belum pernah melakukan ini, Tolong Pi jangan”, Ester mengiba berusaha untuk lolos.

Tetapi itu tidak cukup untuk Frans. Sambil memegangi pinggulnya, dengan satu dorongan besar dia melesakkan semuanya ke dalam pantat Ester.

“Oohh Tuhan”. Ester menjerit, dia mencengkeram ujung tempat tidur dengan kedua tangannya.

Frans mencabut pelan-pelan dan kemudian mendorong lagi dengan cepat. Payudaranya tergantung bebas, tergguncang ketika Frans mengayun dengan irama mantap.

“Oohh Papi bangsat”

“Aku tahu kamu suka ini”, jawab Frans, dia mempercepat gerakannya.

Ester tidak bisa percaya dia sedang menikmati sedang ‘dikerjai’ pantatnya oleh mertuanya.

“Lebih keras”, Ester berteriak.

Frans memegang payudaranya dan mulai menyetubuhinya sekeras yang dia mampu. Ditariknya bahu Ester ke atas mendekat dengannya dan menghisapi lehernya.

“Aku akan keluar”, teriak Frans.

“Tunggu aku “, jawabnya.

Frans menggunakan salah satu tangannya untuk menggosok vaginanya, dan kemudian dia memasukkan dua jari dan mulai mengerjai vaginanya. Ester menjerit dengan perasaan nikmat sekarang saat dalam waktu yang bersamaan telepon berbunyi. Ester menjatuhkan kepalanya ke bantal ketika Frans mengangkat telepon, dengan satu tangan masih menggosok vaginanya.

“Halo.. Johan.. Ya dia menyambutku dengan sangat baik.. Ya aku akan memanggilnya, tunggu”, katanya saat dia menutup gagang telepon supaya Johan tidak bisa dengar suara jeritan orgasme istrinya. Dia bisa merasakan jarinya dilumuri cairan Ester. Dengan satu dorongan terakhir dia mulai menembakkan benihnya di dalam lubang pantat Ester. Semprotan demi semprotan menembak di dalam lubang pantat rapat Ester. Mereka berdua roboh ke tempat tidur, Frans di atas punggung Ester. Penisnya masih di dalam, satu tangan masih menggosok pelan vagina Ester yang terasa sakit, tangan yang lain meremas ringan payudaranya.

“Halo Johan”, kata Ester mengangkat telepon.

“Tidak, kita belum banyak melakukan kegiatan.. Jangan cemaskan kami, hanya tolong usahakan pulang cepat.. Aku mencintaimu”. Dia menutup dan menjatuhkan telepon itu.

Mereka berbaring di sana selama lima menitan. Frans masih di atas, nafas keduanya berangsur reda. Frans mencabut jarinya yang berlumuran sperma dan meletakkannya ke mulut Ester. Dia menghisapnya hingga kering, dan kemudian bangun.

“Aku pikir lebih baik Papi keluar”, dia berkata dengan mata yang berkaca-kaca.

Dia berjalan sempoyongan ke arah kamar mandi itu. Rambutnya berantakan. Frans bisa melihat cairannya yang pelan-pelan menetes turun di pantatnya, dan menurun ke pahanya.

Ibu mertuaku yang butuh seks

Bapak mertuaku (Pak Tom, samaran) yang berusia sekitar 60 tahun baru saja pensiun dari pekerjaannya di salah satu perusahaan di Jakarta. Sebetulnya beliau sudah pensiun dari anggota ABRI ketika berumur 55 tahun, tetapi karena dianggap masih mampu maka beliau terus dikaryakan. Karena beliau masih ingin terus berkarya, maka beliau memutuskan untuk kembali ke kampungnya didaerah Malang, Jawa Timur selain untuk menghabiskan hari tuanya, juga beliau ingin mengurusi kebun Apelnya yang cukup luas.

Ibu mertuaku (Bu Mar, samaran) walaupun sudah berumur sekitar 45 tahun, tetapi penampilannya jauh lebih muda dari umurnya. Badannya saja tidak gemuk gombyor seperti biasanya ibu-ibu yang sudah berumur, walau tidak cantik tetapi berwajah ayu dan menyenangkan untuk dipandang. Penampilan ibu mertuaku seperti itu mungkin karena selama di Jakarta kehidupannya selalu berkecukupan dan telaten mengikuti senam secara berkala dengan kelompoknya.

Beberapa bulan yang lalu, aku mengambil cuti panjang dan mengunjunginya bersama istriku (anak tunggal mertuaku) dan anakku yang baru berusia 2 tahun. Kedatangan kami disambut dengan gembira oleh kedua orang mertuaku, apalagi sudah setahun lebih tidak bertemu sejak mertuaku kembali ke kampungnya. Pertama-tama, aku di peluk oleh Pak Tom mertuaku dan istriku dipeluk serta diciumi oleh ibunya dan setelah itu istriku segera mendatangi ayahnya serta memeluknya dan Bu Mar mendekapku dengan erat sehingga terasa payudaranya mengganjal empuk di dadaku dan tidak terasa penisku menjadi tegang karenanya.

Dalam pelukannya, Bu Mar sempat membisikkan Sur..(namaku).., Ibu kangen sekali denganmu”, sambil menggosok-gosokkan tangannya di punggungku.

Untuk tidak mengecewakannya kubisiki juga, “Buu.., Saya juga kangen sekali dengan Ibu”

Dan aku menjadi sangat kaget ketika ibu mertuaku sambil tetap masih mendekapku membisikiku dengan kata-kata, “Suur.., Ibu merasakan ada yang mengganjal di perut Ibu”.

Karena kaget dengan kata-kata itu aku menjadi tertegun dan terus saling melepaskan pelukan dan kuperhatikan ibu mertuaku tersenyum penuh arti.

Setelah dua hari berada di rumah mertua, aku dan istriku merasakan ada keanehan dalam rumah tangga mertuaku terutama pada diri ibu mertuaku. Ibu mertuaku selalu saja marah-marah kepada suaminya apabila ada hal-hal yang kurang berkenan sedangkan ayah mertuaku menjadi lebih pendiam serta tidak meladeni ibu mertuaku ketika beliau sedang marah-marah dan ayah mertuaku kelihatannya lebih senang menghabiskan waktunya di kebun apelnya walaupun di situ hanya duduk-duduk seperti sedang merenung atau melamun. Istriku sebagai anaknya tidak bisa berbuat apa-apa dengan tingkah laku orang tuanya terutama dengan ibunya, yang sudah sangat jauh berlainan dibanding sewaktu mereka masih berada di Jakarta. Kami berdua hanya bisa menduga-duga saja dan kemungkinannya beliau itu terkena post power syndrome. Karena istriku takut untuk menanyakannya kepada kedua orang tuanya lalu istriku memintaku untuk mengorek keterangan dari ibunya dan supaya ibunya mau bercerita tentang masalah yang sedang dihadapinya maka istriku memintaku untuk menanyakannya sewaktu dia tidak sedang di rumah dan sewaktu ayahnya sedang ke kebun apelnya.

Di pagi hari ke 3 setelah selesai sarapan pagi, istriku sambil membawa anakku pamitan kepada kedua orang tuanya untuk pergi mengunjungi budenya di kota Kediri yang tidak terlalu jauh dari Malang dan kalau bisa akan pulang sore nanti.

“Lho.., Mur (nama istriku), kok Mas mu nggak diajak..?”, tanya ibunya.

“Laah.., nggak usahlah Buu.., biar Mas Sur nemenin bapak dan ibu, wong nggak lama saja kok”, sahut istriku sambil mengedipkan matanya ke arahku dan aku tahu apa maksud kedipan matanya itu, sedangkan ayahnya hanya berpesan pendek supaya hati-hati di jalan karena hanya pergi dengan cucunya saja.

Tidak lama setelah istriku pergi Pak Tompun pamitan dengan istrinya dan aku untuk pergi ke kebun apelnya yang tidak terlalu jauh dari rumahnya sambil menambahkan kata-katanya, “Nak Suur.., kalau nanti mau lihat-lihat kebun, susul bapak saja ke sana”.

Sekarang yang di rumah hanya tinggal aku dan ibu mertuaku yang sedang sibuk membersihkan meja makan. Untuk mengisi waktu sambil menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan tugas yang diminta oleh istriku, kugunakan untuk membaca koran lokal di ruang tamu.

Entah sudah berapa lama aku membaca koran yang pasti seluruh halaman sudah kubaca semua dan tiba-tiba aku dikagetkan dengan suara sesuatu yang jatuh dan diikuti dengan suara mengaduh dari belakang. Dengan gerakan reflek aku segera berlari menuju belakang sambil berteriak, “Buu.., ada apa buu?”.

Dari dalam kamar tidurnya kudengar suara ibu mertuaku seperti merintih, “Nak Suur.., toloong Ibuu”, dan ketika kujenguk ternyata ibu mertuaku terduduk di lantai dan sepertinya habis terjatuh dari bangku kecil di dekat lemari pakaian sambil meringis dan mengaduh serta mengurut pangkal pahanya.

Serta merta kuangkat ibu mertuaku ke atas tempat tidurnya yang cukup lebar dan kutidurkan sambil kutanya, “Bagian mana yang sakit Buu?”

Ibu mertuaku menjawab dengan wajah meringis seperti menahan rasa sakit, “Di sini.., sambil mengurut pangkal paha kanannya dari luar rok yang dipakainya”.

Tanpa permisi lalu kubantu mengurut paha ibu mertuaku sambil kembali kutanya, “Buu.., apa ada bagian lain yang sakit..?

“Nggak ada kok Suur.., cuman di sepanjang paha kanan ini ada rasa sakit sedikit..”, jawabnya.

“Ooh.., iya nak Suur.., tolong ambilkan minyak kayu putih di kamar ibu, biar paha ibu terasa panas dan hilang sakitnya”.

Aku segera mencari minyak yang dimaksud di meja rias dan alangkah kagetku ketika aku kembali dari mengambil minyak kayu putih kulihat ibu mertuaku telah menyingkap roknya ke atas sehingga kedua pahanya terlihat jelas, putih dan mulus. Aku tertegun sejenak di dekat tempat tidur karena melihat pemandangan ini dan mungkin karena melihat keragu-raguanku ini dan tertegun dengan mataku tertuju ke arah paha beliau, ibu mertuaku langsung saja berkata, “Ayoo..lah nak Suur.., nggak usah ragu-ragu, kaki ibu terasa sakit sekali ini lho, lagi pula dengan ibu mertua sendiri saja kok pake sungkan sungkan.., tolong di urutkan paha ibu tapi nggak usah pakai minyak kayu putih itu.., ibu takut nanti malah paha ibu jadi kepanasan”.

Dengan perasaan penuh keraguan, kuurut pelan-pelan paha kanannya yang terlihat ada tanda agak merah memanjang yang mungkin sewaktu terjatuh tadi terkena bangku yang dinaikinya seraya kutanya, “Bagaimana Buu.., apa bagian ini yang sakit..?

“Betul Nak Suur.., yaa yang ituu.., tolong urutkan yang agak keras sedikit dari atas ke bawah”, dan dengan patuh segera saja kuikuti permintaan ibu mertuaku.

Setelah beberapa saat kuurut pahanya yang katanya sakit itu dari bawah ke atas, sambil memejamkan matanya, ibu mertuaku berkata kembali, “Nak Suur.., tolong agak ke atas sedikit ngurutnya”, sambil menarik roknya lebih ke atas sehingga sebagian celana dalamnya yang berwarna merah muda dan tipis itu terlihat jelas dan membuatku menjadi tertegun dan gemetar entah kenapa, apalagi vagina ibu mertuaku itu terlihat mengembung dari luar CD-nya dan ada beberapa helai bulu vaginanya yang keluar dari samping CD-nya.

“Ayoo.., doong.., Nak Sur, kok ngurutnya jadi berhenti”, kata ibu mertuaku sehingga membuatku tersadar.

­”Iii.., yaa.., Buu maaf, tapi.., Buu”, jawabku agak terbata-bata dan tanpa menyelesaikan perkataanku karena agak ragu.

“aah.. kenapa sih Nak Suur..?” kata ibu mertuaku kembali sambil tangan kanannya memegang tangan kiriku serta menggoncangnya pelan.

“Buu.., Saa.., yaa.., saayaa”, sahutku tanpa sadar dan tidak tahu apa yang harus kukatakan, tetapi yang pasti penisku menjadi semakin tegang karena melihat bagian CD ibu mertuaku yang menggelembung di bagian tengahnya.

“Nak Suur..”, katanya lirih sambil menarik tangan kiriku dan kuikuti saja tarikan tangannya tanpa prasangka yang bukan-bukan dan setelah tanganku diciumnya serta digeser geserkan di bibirnya, lalu secara tidak kuduga tanganku diletakkan tepat di atas vaginanya yang masih tertutup CD dan tetap dipegangnya sambil dipijat-pijatkannya secara perlahan ke vaginanya diikuti dengan desis suara ibu mertuaku, “sshh.., sshh”.

Kejadian yang tidak kuduga sama sekali ini begitu mengagetkanku dan secara tidak sadar aku berguman agak keras.

“Buu.., Saa..yaa”,

dan belum sempat aku menyelesaikan kata-kataku, dari mulut ibu mertuaku terdengar, “Nak Suur.., kook seperti anak kecil saja.., siih?”.

“Buu.., Saa.., yaa.., takuut kalau nanti bapak datang”, sahutku gemetar karena memang saat itu aku takut benar sambil mencoba menarik tanganku tetapi tangan ibu mertuaku yang masih tetap memegang tanganku, menahannya dan bahkan semakin menekan tanganku ke vaginanya serta berkata pelan, “Nak Suur.., Bapak pulang untuk makan siang selalu jam 1 siang nanti.., tolong Ibuu.., naak”, terdengar seperti mengiba.

Sebetulnya siapa sih yang tidak mau kalau sudah seperti ini, aku juga tidak munafik dan pasti siapapun juga tidak bisa menahan diri kalau dalam situasi seperti ini. Tetapi karena ini baru pertama kualami dan apalagi dengan ibu mertuaku sendiri tentunya perasaan takutpun pasti akan ada.

“Ayoo..lah Nak Suur.., tolongin Ibuu.., Naak”, kudengar ibu mertuaku mengiba kembali sehingga membuatku tersadar dan tahu-tahu ibu mertuaku telah memelukku.

“Buu.., biar saya kunci pintunya dulu, yaa..?”, pintaku karena aku was-was kalau nanti ada orang masuk.

Tetapi ibu mertuaku malah menjawab, “Nggak usah naak.., selama ini nggak pernah ada orang pagi-pagi ke rumah Ibu”, serta terus mencium bibirku dengan bernafsu sampai aku sedikit kewalahan untuk bernafas.

Semakin lama ibu mertuaku semakin tambah agresif saja sambil tetap menciumiku, tangannya berusaha melepaskan kaos oblong yang kukenakan dan setelah berhasil melepaskan kaosku dengan mudah disertai dengan bunyi nafasnya yang terdengar berat dan cepat, ibu mertuaku terus mencium wajah serta bibirku dan perlahan-lahan ciumannya bergerak ke arah leher serta kemudian ke arah dadaku.

Ciuman demi ciuman ibu mertuaku ini tentu saja membuatku menjadi semakin bernafsu dan ketakutanku yang tadipun sudah tidak teringat lagi.

“Buu.., boleh saya bukaa.., rok Ibu..? tanyaku minta izin.

“Suur.., bol.., eh.., boleh.., Nak, Nak Suur.., boleh lakukan apa saja..”, katanya dengan suara terputus-putus dan terus kembali menciumi dadaku dengan nafasnya yang cepat dan sekarang malah berusaha melepas kancing celana pendek yang ada di badanku. Setelah rok ibu mertuaku terlepas lalu kulepaskan juga kaitan BH-nya dan tersembulah payudaranya yang tidak begitu besar dan sudah agak menggelantung ke bawah dengan puting susunya yang besar kecoklatan.

Sambil kuusapkan kedua tanganku ke bagian bawah payudaranya lalu kutanyakan, “Buu.., boleh saya pegang dan ciumi tetek.., Ibuu..?

“Bool.., eh.., boleh.., sayang.., lakukan apa saja yang Nak Sur mau.., Ibu sudah lama sekali tidak mendapatkan ini lagi dari bapakmu.., ayoo.., sayaang”, sahut ibu mertuaku dengan suara terbata-bata sambil mengangkat dadanya dan perlahan-lahan kupegang kedua payudara ibu mertuaku dan salah satu puting susunya langsung kujilati dan kuhisap-hisap serta pelan-pelan kudorong tubuh ibu mertuaku sehingga jatuh tertidur di kasur dan dari mulut ibu mertuaku terdengar, “sshh.., aahh.., sayaang.., oohh.., teruus.., yaang.., tolong puasiin Ibuu.., Naak”, dan suara ibu mertuaku yang terdengar menghiba itu menjadikanku semakin terangsang dan aku sudah lupa kalau yang kugeluti ini adalah ibu mertuaku sendiri dan ibu dari istriku.

“Naak Suur”, kudengar suara ibu mertuaku yang sedang meremas-remas rambut di kepalaku serta menciuminya.

“Ibuu.., ingin melihat punyamu.., Naak”, seraya tangannya berusaha memegang penisku yang masih tertutup celana pendekku.

“Iyaa.., Buu.., saya buka celana dulu Buu”, sahutku setelah kuhentikan hisapanku pada payudaranya serta segera saja aku bangkit dan duduk di dekat muka ibu mertuaku. Segera saja ibu mertuaku memegang penisku yang sedang berdiri tegang dari luar celana dan berkomentar,

“Nak Suur.., besar betuul.., dan keras lagi, ayoo.., dong cepaat.., dibuka celananya.., agar Ibu bisa melihatnya lebih jelas”, katanya seperti sudah tidak sabar lagi, dan tanpa disuruh ibu untuk kedua kalinya, langsung saja kulepas celana pendek yang kukenakan.

Ketika aku membuka CD-ku serta melihat penisku berdiri tegang ke atas, langsung saja ibu mertuaku berteriak kecil, “Aduuh.., Suur.., besaar sekali”

Padahal menurut anggapanku ukuran penisku sepertinya wajar saja menurut ukuran orang Indonesia tapi mungkin saja lebih besar dari punya suaminya dan ibu mertuaku langsung saja memegangnya serta mengocoknya pelan-pelan sehingga tanpa kusadari aku mengeluarkan desahan kecil, “sshh.., aahh”, sambil kedua tanganku kuusap-usapkan di wajah dan rambutnya.

“Aduuh.., Buu.., sakiit”, teriakku pelan ketika ibu mertuaku berusaha menarik penisku ke arah wajahnya, dan mendengar keluhanku itu segera saja ibu mertuaku melepas tarikannya dan memiringkan badannya serta mengangkat separuh badannya yang ditahan oleh tangan kanannya dan kemudian mendekati penisku. Setelah mulutnya dekat dengan penisku langsung saja ibu mertuaku mengeluarkan lidahnya serta menjilati kepala penisku sedangkan tangan kirinya meremas-remas pelan kedua bolaku sementara tangan kiriku kugunakan untuk meremas-remas rambutnya serta sekaligus untuk menahan kepala ibu mertuaku. Tangan kananku kuremas-remaskan pada payudaranya yang tergantung ke samping.

Setelah beberapa kali kepala penisku dijilatinya pelan-pelan kutarik kepala ibu mertuaku agar bisa lebih dekat lagi ke arah penisku dan rupanya ibu mertuaku cepat mengerti apa yang kumaksud dan walaupun tanpa kata-kata langsung saja kepalanya didekatkan mengikuti tarikan kedua tanganku dan sambil memegangi batang penisku serta dengan hanya membuka mulutnya sedikit, ibu mertuaku secara pelan-pelan memasukkan penisku yang sudah basah oleh air liurnya sampai setengah batang penisku masuk ke dalam mulutnya. Kurasakan lidah ibu mertuaku dipermainkannya dan digesek-gesekannya pada kepala penisku, setelah itu kepala ibu ditariknya mundur pelan-pelan dan kembali dimajukan sehingga penisku terasa sangat nikmat. Karena tidak tahan menahan kenikmatan yang di berikan ibu mertuaku, aku jadi mendesis, “sshh.., aaccrr.., oohh”, mengikuti irama maju mundurnya kepala ibu. Makin lama gerakan kepala ibu mertuaku maju mundur semakin cepat dan ini menambah nikmat bagiku.

Beberapa menit kemudian ibu mertuaku secara tiba-tiba melepaskan penisku dari mulutnya padahal aku masih ingin hal ini terus berlangsung dan sambil kembali menaruh kepalanya di tempat tidur dia menarik bahuku untuk mengikutinya.

Ibu langsung mencium wajahku dan ketika ciumannya mengarah ke telingaku, kudengar ibu berkata dengan agak berbisik, “Naak Suur.., Ibu juga kepingin punya ibu dijilati”,

dan sambil kunaiki tubuh ibu mertuaku lalu kutanyakan, “Buu.., apa boleh.., saya lakukan?”,

segera saja ibu menjawabnya, “Nak Suur.., tolong pegang dan jilati kepunyaan ibu.., naak.., ibu sudah lama kepingin di gituin”.

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi aku menurunkan badanku secara perlahan-lahan dan ketika melewati dadanya kembali kuciumi serta kujilati payudara ibu mertuaku yang sudah tidak terlalu keras lagi. Setelah beberapa saat kuciumi payudara ibu, aku segera menurunkan badanku lagi secara perlahan sedangkan ibu mertuaku meremas-remas rambutku, juga terasa seperti berusaha mendorong kepalaku agar cepat-cepat sampai ke bawah. Kuciumi dan kujilati perut dan pusar ibu sambil salah satu tanganku kugunakan untuk menurunkan CD-nya. Kemudian dengan cekatan kulepas CD-nya dan kulemparkan ke atas lantai. Kulihat vagina ibu mertuaku begitu lebat ditumbuhi bulu-bulu yang hitam mengitari liang vaginanya. Mungkin karena terlalu lama aku menjilati perut dan sekitarnya, kembali kurasakan tangan ibu yang ada di kepalaku menekan ke bawah dan kali ini kuikuti dengan menurunkan badanku pelan-pelan ke bawah dan sesampainya di dekat vaginanya, kuciumi daerah di sekitarnya dan apa yang kulakukan ini mungkin menyebabkan ibu tidak sabaran lagi sehingga kudengar suara ibu mertuaku, “Nak Suur.., toloong.., cepaat.., saa.., yaang.., ayoo.., Suur”.

Tanpa kujawab permintaannya aku mulai melebarkan kakinya dan kuletakkan badanku di antara kedua pahanya, lalu kusibak bulu vaginanya yang lebat itu untuk melihat belahan vagina ibu dan setelah bibir vagina ibu terlihat jelas lalu kubuka bibir kemaluannya dengan kedua jari tanganku, ternyata vagina ibu mertuaku telah basah sekali. Ketika ujung lidahku kujilatkan ke dalam vaginanya, kurasakan tubuh ibu menggelinjang agak keras sambil berkata, “Cepaat.., Suur.., ibu sudah nggak tahaan”.

Dengan cepat kumasukkan mulut dan lidahku ke dalam vaginanya sambil kujilati dan kusedot-sedot dan ini menyebabkan ibu mulai menaik-turunkan pantatnya serta bersuara, “sshh.., aahh.., Suur.., teruus.., adduuhh.., enaak.., Suur”,

Lalu kukecup clitorisnya berulang kali hingga mengeras, hal ini membuat ibu mertuaku menggelinjang hebat, “Aahh.., oohh.., Suur.., betuul.., yang itu.., Suur.., enaak.., aduuh.., Suur.., teruskaan.., aahh”, sambil kedua tangannya menjambak rambutku serta menekan kepalaku lebih dalam masuk ke vaginanya.

Kecupan demi kecupan di vagina ibu ini kuteruskan sehingga gerakan badan ibu mertuaku semakin menggila dan tiba-tiba kudengar suara ibu setengah mengerang, “aahh.., ooh.., duuh.., Suur.., ibuu.., mau.., mauu.., sampaii.., Naak.., ooh”, disertai dengan gerakan pantatnya naik turun secara cepat.

Gerakan badannya terhenti dan yang kudengar adalah nafasnya yang menjadi terengah-engah dengan begitu cepatnya dan tangannyapun sudah tidak meremas-remas rambutku lagi, sementara itu jilatan lidahku di vagina ibu hanya kulakukan sekedarnya di bagian bibirnya saja. Dengan nafasnya yang masih memburu itu, tiba-tiba ibu mertuaku bangun dan duduk serta berusaha menarik kepalaku seraya berkata, “Naak Suur.., ke sinii.., saayaang”, dan tanpa menolak kuikuti saja tarikan tangan ibu. Ketika kepalaku sudah di dekat kepalanya, ibu mertuaku langsung saja memelukku seraya berkata dengan suara terputus-putus karena nafasnya yang masih memburu, “Suur.., Ibu puas dengan apa yang Nak Suur.., lakukan tadi, terima kasiih.., Naak”.

Ibu mertuaku bertubi-tubi mencium wajahku dan kubalas juga ciumannya dengan menciumi wajahnya sambil kukatakan untuk menyenangkan hatinya, “Buu.., saya sayang Ibuu.., saya ingin ibu menjadi.., puu..aas”.

Setelah nafas ibu sudah kembali normal dan tetap saja masih menciumi seluruh wajahku dan sesekali bibirku, dia berkata, “Naak Suur.., Ibu masih belum puas sekali.., Suur.., toloong puasin ibu sampai benar-benar puaas.., Naak”, seraya kurasakan ibu merenggangkan kedua kakinya.

Karena aku masih belum memberikan reaksi atas ucapannya itu, karena tiba-tiba aku terpikir akan istriku dan yang kugeluti ini adalah ibu kandungnya aku menjadi tersadar ketika ibu bersuara kembali, “Sayaang.., ayoo.., toloong Ibu dipuasin lagi Suur, tolong masukkan punyamu yang besar itu ke punya ibu”.

“Buu.., seharusnya saya tidak boleh melakukan ini.., apalagi kepada Ibuu”, sahutku di dekat telinganya.

“Suur.., nggak apa-apa.., Naak.., Ibu yang kepingin, lakukanlah Naak.., lakukan sampai Ibu benar-benar puas Suur”, katanya dengan suara setengah mengiba.

“aahh.., biarlah, kenapa kutolak”, pikirku dan tanpa membuang waktu lagi aku lalu mengambil ancang-ancang dan kupegang penisku serta kuusap-usapkan di belahan bibir vagina ibu mertuaku yang sudah sedikit terbuka. Sambil kucium telinga ibu lalu kubisikkan, “Buu.., maaf yaa.., saya mau masukkan sekarang, boleh?”.

“Suur.., cepat masukkan, Ibu sudah kepingin sekali Naak”, sahutnya seperti tidak sabar lagi dan tanpa menunggu ibu menyelesaikan kalimatnya aku tusukkan penisku ke dalam vaginanya.

Mungkin entah tusukan penisku terlalu cepat atau karena ibu katanya sudah lama tidak pernah digauli oleh suaminya langsung saja beliau berteriak kecil, “Aduuh.., Suur.., pelan-pelan saayaang.., ibu agak sakit niih”, katanya dengan wajah yang agak meringis mungkin menahan rasa kesakitan.

Kuhentikan tusukan penisku di vaginanya, “Maaf Buu.., saya sudah menyakiti Ibu.., maaf ya Bu”.

Ibu mertuaku kembali menciumku, “Tidak apa-apa Suur.., Ibu cuma sakit sedikit saja kok, coba lagi Suur..”, sambil merangkulkan kedua tangannya di pungungku.

“Buu.., saya mau masukkan lagi yaa dan tolong Ibu bilang yaa.., kalau ibu merasa sakit”, sahutku. Tanpa menunggu jawaban ibu segera saja kutusukkan kembali penisku tetapi sekarang kulakukan dengan lebih pelan. Ketika kepala penisku sudah menancap di lubang vaginanya, kulihat ibu sedikit meringis tetapi tidak mengeluarkan keluhan, “Buu.., sakit.., yaa?”.

Ibu hanya menggelengkan kepalanya serta menjawab, “Suur.., masukkan saja sayaang”, sambil kurasakan kedua tangan ibu menekan punggungku. Aku segera kembali menekan penisku di lubang vaginanya dan sedikit terasa kepala penisku sudah bisa membuka lubang vaginanya, tetapi kembali kulihat wajah ibu meringis menahan sakit. Karena ibu tidak mengeluh maka aku teruskan saja tusukan penisku dan, “Bleess”, penisku mulai membongkar masuk ke liang vaginanya diikuti dengan teriakan kecil, “Aduuh.., Suur”, sambil menengkeramkan kedua tangannya di punggungku dan tentu saja gerakan penisku masuk ke dalam vaginanya segera kutahan agar tidak menambah sakit bagi ibu.

“Buu.., sakit yaa..? maaf ya Buu”. Ibu mertuaku hanya menggelengkan kepalanya.

“Enggak kok sayaang.., ibu hanya kaget sedikit saja”, lalu mencium wajahku sambil berucap kembali, “Suur.., besar betul punyamu itu”.

Pelan-pelan kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku yang terjepit di dalam vaginanya keluar masuk dan ibupun mulai menggoyang-goyangkan pantatnya pelan-pelan sambil berdesah, “sshh.., ooh.., aahh.., sayaang.., nikmat.., teruuskan.., Naak”, katanya seraya mempercepat goyangan pantatnya.

Akupun sudah mulai merasakan enaknya vaginan ibu dan kusahut desahannya, “Buu.., aahh.., punyaa Ibu juga nikmat, buu”, sambil kuciumi pipinya.

Makin lama gerakanku dan ibu semakin cepat dan ibupun semakin sering mendesah, “Aah.., Suurr.., ooh.., teruus.., Suur”. Ketika sedang nikmat-enaknya menggerakkan penisku keluar masuk vaginanya, ibu menghentikan goyangan pantatnya.

Aku tersentak kaget, “Buu.., kenapa? apa ibu capeek?”, Ibu hanya menggelengkan kepalanya saja, sambil mencium leherku ibu berucap, “Suur.., coba hentikan gerakanmu itu sebentar”.

“Ada apa Buu”, sahutku sambil menghentikan goyangan pantatku naik turun.

“Suur.., kamu diam saja dan coba rasakan ini”, kata ibu tanpa menjelaskan apa maksudnya dan tidak kuduga tiba-tiba terasa penisku seperti tersedot dan terhisap di dalam vagina ibu mertuaku, sehingga tanpa sadar aku mengatakan, “Buu.., aduuh.., enaak.., Buu.., teruus Bu, ooh.., nikmat Buu”, dan tanpa sadar, aku kembali menggerakkan penisku keluar masuk dengan cepat dan ibupun mulai kembali menggoyangkan pantatnya.

“ooh.., aah.., Suur.., enaak Suur”, dan nafasnya dan nafaskupun semakin cepat dan tidak terkontrol lagi.

Mengetahui nafas ibu serta goyangan pantat ibu sudah tidak terkontrol lagi, aku tidak ingin ibu cepat-cepat mencapai orgasmenya, lalu segera saja kuhentikan gerakan pantatku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya yang menyebabkan ibu mertuaku protes, “Kenapa.., Suur.., kok berhenti?” tapi protes ibu tidak kutanggapi dan aku segera melepaskan diri dari pelukannya lalu bangun.

Tanpa bertanya, lalu badan ibu mertuaku kumiringkan ke hadapanku dan kaki kirinya kuangkat serta kuletakkan di pundakku sedangkan ibu mertuaku hanya mengikuti saja apa yang kulakukan itu. Dengan posisi seperti ini segera saja kutusukkan kembali penisku masuk ke dalam vagina ibu mertuaku yang sudah sangat basah itu tanpa kesulitan. Ketika seluruh batang penisku sudak masuk semua ke dalam vaginanya, segera saja kutekan badanku kuat-kuat ke badan ibu sehingga ibu mulai berteriak kecil, “Suur.., aduuh.., punyamu masuk dalam sekali.., naak.., aduuh.., teruus sayaang.., aah”, dan aku meneruskan gerakan keluar masuk penisku dengan kuat.

Setiap kali penisku kutekan dengan kuat ke dalam vagina ibu mertuaku, ibu terus saja berdesah, “Ooohh.., aahh.., Suur.., enaak.., terus, tekan yang kuaat sayaang”.

Aku tidak berlama-lama dengan posisi seperti ini. Kembali kehentikan gerakanku dan kucabut penisku dari dalam vaginanya. Kulihat ibu hanya diam saja tanpa protes lagi dan lalu kukatakan pada ibu, “Buu.., coba ibu tengkurap dan nungging”, kataku sambil kubantu membalikkan badan dan mengatur kaki ibu sewaktu nungging.

“Aduuh.., Suur.., kamu kok macem-macem sih”, komentar ibu mertuaku.

Aku tidak menanggapi komentarnya dan tanpa kuberi aba-aba penisku kutusukkan langsung masuk ke dalam vagina ibu serta kutekan kuat-kuat dengan memegang pinggangnya sehingga ibu berteriak, “Aduuh Suur, ooh” dan tanpa kupedulikan teriakan ibu, langsung saja kukocok penisku keluar masuk vaginanya dengan cepat dan kuat hingga membuat badan ibu tergetar ketika sodokanku menyentuh tubuhnya dan setiap kali kudengar ibu berteriak, “ooh.., ooh.., Suur”, dan tidak lama kemudian ibu mengeluh lagi, “Suur.., Ibu capek Naak.., sudaah Suur.., Ibuu capeek”, dan tanpa kuduga ibu lalu menjatuhkan dirinya tertidur tengkurap dengan nafasnya yang terengah-engah, sehingga mau tak mau penisku jadi keluar dari vaginanya.

Tanpa mempedulikan kata-katanya segera saja kubalik badan ibu yang jatuh tengkurap. Sekarang sudah tidur telentang lagi, kuangkat kedua kakinya lalu kuletakkan di atas kedua bahuku. Ibu yang kulihat sudah tidak bertenaga itu hanya mengikuti saja apa yang kuperbuat. Segera saja kumasukkan penisku dengan mudah ke dalam vagina ibu mertuaku yang memang sudah semakin basah itu, kutekan dan kutarik kuat sehingga payudaranya yang memang sudah aggak lembek itu terguncang-guncang. Ibu mertuaku nafasnya terdengar sangat cepat, “Suur.., jangaan.., kuat-kuat Naak.., badan ibu sakit semua”, sambil memegang kedua tanganku yang kuletakkan di samping badannya untuk menahan badanku.

Mendengar kata-kata ibu mertuaku, aku menjadi tersadar dan teringat kalau yang ada di hadapanku ini adalah ibu mertuaku sendiri dan segera saja kehentikan gerakan penisku keluar masuk vaginanya serta kuturunkan kedua kaki ibu dari bahuku dan langsung saja kupeluk badan ibu serta kuucapkan, “Maaf.., Buu.., kalau saya menyakiti Ibu, saya akan mencoba untuk pelan-pelan”, segera saja ibu berucap, “Suur nggak apa-apa Nak, tapi Ibu lebih suka dengan posisi seperti ini saja, ayoo.., Suur mainkan lagi punyamu agar ibu cepat puaas”.

“Iyaa.., Buu.., saya akan coba lagi”, sahutku sambil kembali kunaik-turunkan pantatku sehingga penisku keluar masuk vagina ibu dan kali ini aku lakukan dengan hati-hati agar tidak menyakiti badan ibu, dan ibu mertuakupun sekarang sudah mulai menggoyangkan pantatnya serta sesekali mempermainkan otot-otot di vaginanya, sehingga kadang-kadang terasa penisku terasa tertahan sewaktu memasuki liang vaginanya.

Ketika salah satu payudara ibu kuhisap-hisap puting susunya yang sudah mengeras itu, ibu mertuaku semakin mempercepat goyangan pinggulnya dan terdengar desahannya yang agak keras diantara nafasnya yang sudah mulai memburu, “oohh.., aahh.., Suur.., teruus.., ooh”, seraya meremas-remas rambutku lebih keras. Akupun ikut mempercepat keluar masuknya penisku di dalam vaginanya.

Goyangan pinggul ibu mertuakupun semakin cepat dan sepertinya sudah tidak bisa mengontrol dirinya lagi. Disertai nafasnya yang semakin terengah-engah dan kedua tangannya dirangkulkan ke punggungku kuat-kuat, ibu mengatakan dengan terbata-bata, “Nak Suur.., aduuh.., Ibuu.., sudaah.., ooh.., mauu kelluaar”.

Aku sulit bernafas karena punggungku dipeluk dan dicengkeramnya dengan kuat dan kemudian ibu mertuaku menjadi terdiam, hanya nafasnya saja yang kudengar terengah-engah dengan keras dan genjotan penisku keluar masuk vaginanya. Untuk sementara aku hentikan untuk memberikan kesempatan pada ibu menikmati orgasmenya sambil kuciumi wajahnya, “Bagaimana.., Buu?, mudah-mudahan ibu cukup puas.

Ibu mertuaku tetap masih menutup matanya dan tidak segera menjawab pertanyaanku, yang pasti nafas ibu masih memburu tetapi sudah mulai berkurang dibanding sebelumnya. Karena ibu masih diam, aku menjadi sangat kasihan dan kusambung pertanyaanku tadi di dekat telinganya, “Buu.., saya tahu ibu pasti capek sekali, lebih baik ibu istirahat dulu saja.., yaa?”, seraya aku mulai mengangkat pantatku agar penisku bisa keluar dari vagina ibu yang sudah sangat basah itu. Tetapi baru saja pantatku ingin kuangkat, ternyata ibu mertuaku cepat-cepat mencengkeram pinggulku dengan kedua tangannya dan sambil membuka matanya, memandang ke wajahku, “Jangaan.., Suur.., jangan dilepas punyamu itu, ibu diam saja karena ingin melepaskan lelah sambil menikmati punyamu yang besar itu mengganjal di tempat ibuu, jangaan dicabut dulu.., yaa.., sayaang”, terus kembali menutup matanya.

Mendengar permintaan ibu itu aku tidak jadi mencabut penisku dari dalam vagina ibu dan kembali kujatuhkan badanku pelan-pelan di atas badan ibu yang nafasnya sekarang sudah kelihatan mulai agak teratur, sambil kukatakan, “Tidaak.., Buu.., saya tidak akan mencabutnya, saya juga masih kepingin terus seperti ini”, sambil kurangkul leher ibu dengan tangan kananku. Ibu hanya diam saja dengan pernyataanku itu, tetapi tiba-tiba penisku yang sejak tadi kudiamkan di dalam vaginanya terasa seperti dijepit dan tersedot vagina ibu mertuaku, dan tanpa sadar aku mengaduh, “Aduuh.., ooh.., Buu”.

“Kenapa.., sayaang.., enaak yaa?”, sahut ibu sambil mencium bibirku dengan lembut dan sambil kucium hidungnya kukatakan, “Buu.., enaak sekalii”, dan seperti tadi, sewaktu ibu mertuaku mula-mula menjepit dan menyedot penisku dengan vaginanya, secara tidak sengaja aku mulai menggerakkan lagi penisku keluar masuk vaginanya dan ibu mertuakupun kembali mendesah, “ooh.., aah.., Suur.., teruus.., naak.., aduuh.., enaak sekali”.

Semakin lama gerakan pinggul ibu semakin cepat dan kembali kudengar nafasnya semakin lama semakin memburu. Gerakan pinggul ibu kuimbangi dengan mempercepat kocokan penisku keluar masuk vaginanya. Makin lama aku sepertinya sudah tidak kuat untuk menahan agar air maniku tetap tidak keluar, “Buu.., sebentar lagi.., sayaa.., sudaah.., mau keluaar”, sambil kupercepat penisku keluar masuk vaginanya dan mungkin karena mendengar aku sudah mendekati klimaks ibu mertuakupun semakin mempercepat gerakan pinggulnya serta mempererat cengkeraman tangannya di punggungku seraya berkata, “Suur.., teruuss.., Naak.., Ibuu.., jugaa.., sudah dekat, oohh.., ayoo Suur.., semproot Ibuu dengan airmuu.., sekaraang”.

“Iyaa.., Buu.., tahaan”, sambil kutekan pantatku kuat-kuat dan kami akhiri teriakan itu dengan berpelukan sangat kuat serta tetap kutekan penisku dalam-dalam ke vagina ibu mertuaku. Dalam klimaksnya terasa vagina ibu memijat penisku dengan kuat dan kami terus terdiam dengan nafas terengah-engah.

Setelah nafas kami berdua agak teratur lalu kucabut penisku dari dalam vagina ibu dan kujatuhkan badanku serta kutarik kepala ibu mertuaku dan kuletakkan di dadaku.Setelah nafasku mulai teratur kembali dan kuperhatikan nafas ibupun begitu, aku jadi ingat akan tugas yang diberikan oleh istriku.

“Buu.., apa ini yang menyebabkan ibu selalu marah-marah pada Bapak..?”, tanyaku.

“Mungkin saja Suur.., kenapa Suur?”, Sahutnya sambil tersenyum dan mencium pipiku.

“Buu.., kalau benar, tolong ibu kurangi marah-marahnya kepada Bapak, kasihan dia” ibu hanya diam dan seperti berfikir.

Setelah diam sebentar lalu kukatakan, “Buu.., sudah siang lho, seraya kubangunkan tubuh ibu serta kubimbing ke kamar mandi.

Setelah peristiwa ini terjadi, ibu seringkali mengunjungi rumah kami dengan alasan kangen cucu dan anaknya Mur, tetapi kenyataannya ibu mertuaku selalu mengontakku melalui telepon di kantor dan meminta jatahnya di suatu motel sebelum menuju ke rumahku. Untungnya sampai sekarang istriku tidak curiga, hanya saja dia merasa aneh karena setiap bulannya ibunya selalu mengunjungi rumah kami.

Mertua kakakku

Perkenalkan dulu namaku Tono. Sudah satu minggu ini aku berada di rumah sendirian. Terus terang saja aku jadi kesepian juga rasanya. Kalau mau tidur rasanya kok aneh juga, sendirian dan sepi padahal biasanya ada bapak, ibu,kakak dan adek .

Aku teringat peristiwa yang aku alami dengan ibu mertua kakakku. Ibu mertua kakakku memang bukan ibu kandung istrinya, karena ibu kandungnya telah meninggal dunia. Ayah mertua kakakku kemudian kawin lagi dengan ibu mertua kakakku yang sekarang ini dan kebetulan tidak mempunyai anak. Ibu mertua kakakku ini umurnya sekitar 40 tahun, wajahnya ayu dan tubuhnya benar-benar sintal dan padat sesuai dengan wanita idamanku. Buah dadanya besar sesuai dengan pinggulnya. Demikian juga pantatnya juga bahenol banget. Aku sering membayangkan ibu mertua kakakku itu kalau sedang telentang pasti vaginanya membusung ke atas terganjal pantatnya yang besar itu. Hemm, sungguh menggairahkan.

Peristiwa itu terjadi waktu malam dua hari sebelum hari perkawainan kakakku dengan Riris. Waktu itu aku duduk berdua di kamar keluarga sambil membicarakan persiapan perkawinan kakakku. Mendadak lampu mati. Dalam kegelapan itu ibu mertua kakakku (waktu itu masih calon) berdiri, saya pikir akan mencari lilin tetapi justru ibu mertua kakakku memeluk dan menciumi pipi dan bibirku dengan lembut dan mesra. Aku kaget dan melongo karena aku tidak mengira sama sekali diciumi oleh calon ibu mertua kakakku yang cantik itu.

Hari-hari berikutnya aku bersikap seperti biasa, demikian juga ibu mertua kakakku. Pada saat-saat aku duduk berdua dengan dia aku sering memberanikan diri memandang ibu mertua kakakku lama-lama dan dia biasanya tersenyum manis dan berkata, “Apaa..?, sudah-sudah, ibu jadi malu”.

Terus terang saja aku sebenarnya merindukan untuk dapat bermesraan dengan ibu mertua kakakku itu. Aku kadang-kadang sangat merasa bersalah dengan kakakku dan juga kakak iparku yang baik hati. Kadang-kadang aku demikian kurang ajar membayangkan ibu mertua kakakku disetubuhi ayah mertua kakakku, aku bayangkan kemaluan ayah mertua kakakku keluar masuk vagina ibu mertua kakakku. Ooh alangkah…! Tetapi aku selalu menaruh hormat kepada ayah dan ibu mertua kakakku. Ibu mertua kakakku juga sayang sama kami.

Pagi-pagi hari berikutnya aku ditelepon ibu mertua kakakku minta agar sore harinya aku dapat mengantarkan ibu menengok famili yang sedang berada di rumah sakit karena ayah mertua kakakku sedang pergi ke kota lain untuk urusan bisnis. Aku sih setuju saja. Sore harinya kami jadi pergi ke rumah sakit dan pulang sudah sehabis maghrib. Seperti biasa aku selalu bersikap sopan dan hormat pada ibu mertua kakakku.

Dalam perjalan pulang itu, aku memberanikan diri bertanya, “tante, ngapain sih dulu tante kok cium Tono ?”.

“Aah, kamu ini kok maih diingat-ingat juga siih”, jawab ibu mertua kakakku sambil memandangku.

“Jelas dong buu…, Kan asyiik”, kataku menggoda.

“Naah, tambah kurang ajar thoo, Ingat kakakmu lho Ton…, Nanti kedengaran juga bisa geger lho Tono “.

“Tapii, sebenarnya kenapa siih tante…, Tono jadi penasaran lho”.

“Aah, ini anak kok nggak mau diem siih, Tapi eeh…, anu…, Tono, sebenarnya waktu itu waktu kita jagongan itu, ibu lihat tampangmu itu kok ganteng banget. Hidungmu, bibirmu, matamu yang agak kurang ajar itu kok membuat ibu jadi gemes banget deeh sama kamu. Makanya waktu lampu mati itu, entah setan dari mana ibu jadi pengin banget mencium dan merangkulmu. Ibu sebenarnya jadi malu sekali. Ibu macam apa aku ini.”

“Mungkin, setannya ya Tono ini Bu…, Saat ini setannya itu juga deg-degan kalau lihat ibu mertua kakakku. Ibu boleh percaya boleh tidak, kadang-kadang kalau saya lagi sendiri malah bayangin tante lho. Bener-bener nih. Sumpah deh. Kalau tante pernah bayangin saya nggak kalau lagi sama om”, Aku semakin berani.

“aah nggak tahu ah…, udaah…, udaah…, nanti kalau keterusan kan nggak baik. Hati-hati setirnya. Nanti kalau nabrak-nabrak dikiranya nyetir sambil pacaran ama tante. Pasti tante yang disalahin orang dikiranya yang tua niih yang ngebet”, katanya.

“Padahal dua-duanya ngebet lo tante. tante, maafin Tono deeh. Tono jadi pengiin banget sama tante lho…, Gimana niih, punya Tono sakit kejepit celana nihh”, Aku makin berani.

“Aduuh Toom, jangan gitu dong. tante jadi susah nih. Tapi terus terang aja Tono .., tante jadi kayak orang jatuh cinta sama kamu.., Kalau udah begini, udah naik begini, tante jadi pengin ngeloni kamu Tono …, Tono kita cepat pulang saja yaa…, Nanti diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh lagi kosong khan…, Tapi Tono minggir sebentar, tante pengen cium kamu di sini”. Kata tante dengan suara bergetar.

Oooh aku jadi berdebar-debar sekali. Aku jadi nafsu banget. Aku minggir di tempat yang agak gelap. Sebenarnya kaca mobilku juga sudah gelap sehingga tidak takut ketahuan orang. Aku dan ibu mertua kakakku berangkulan, berciuman dengan lembut penuh kerinduan. Benar-benar, selama ini kami saling merindukan.

“eehhm…Ton, ibu kangen banget ma kamu”, bisik ibu mertua kakakku.

“Aku juga bu”, bisikku.

“Ton…, udah dulu…, eehmm udah dulu”, napas kami memburu.

“Ayo jalan lagi…, Hati-hati yaa”, kata ibu mertua kakakku.

“Ibu penisku kejepit niih…, Sakit”, kataku.

“Iiich anak nakal”, Pahaku dicubitnya.

“Okey…, buka dulu ritsluitingnya”, katanya.

Cepat-cepat aku buka celanaku dan turunin celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang banget. Tangan kiri ibu mertua kakakku aku tuntun untuk memegang penisku.

“Aduuh kamu. Gede banget pelirmu…, Biar ibu pegangin, Ayo jalan. Hati-hati setirnya”.

Aku masukkan persneling satu dan mobil melaju pulang. Penisku dipegangi ibu, jempolnya mengelus-elus kepala penisku dengan lembut. Aduuh, gelii… nikmat sekali. Mobil berjalan tenang. Kami berdiam diri tetapi tangan ibu terus memijat dan mengelus-elus penisku dengan lembut.

Sampai di rumah aku turun membuka pintu dan langsung masuk garasi. Garasi aku tutup kembali. Kami bergandengan tangan masuk ke ruang tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kerinduan. Suasana begitu hening dan romantis kami berpelukan lagi, berciuman lagi, makin menggelora. Kami tumpahkan kerinduan kami. Aku ciumi ibu mertua kakakku dengan penuh nafsu. Aku rogoh buah dadanya yang selalu aku bayangkan, aduuh benar-benar besar dan lembut.

“Buu, aku kangen banget buu…, aku kangen banget”.

“Aduuh Ton, ibu juga…, Peluklah ibu Ton, peluklah ibu” nafasnya semakin memburu.

Matanya terpejam, aku ciumi matanya, pipinya, aku lumat bibirnya, dan lidahku aku masukkan ke mulutnya. Ibu agak kaget dan membuka matanya. Kemudian dengan serta-merta lidahku disedotnya dengan penuh nafsu.

“Eehhmm.., Ton, ibu belum pernah ciuman seperti ini…, Lagi Ton… masukkan lidahmu ke mulut ibu”

Ibu mendorongku pelan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya lagi diriku dan berbisik, ” bawalah Ibu ke kamar… Enakan di kamar, jangan disini”.

Dengan berangkulan kami masuk ke kamar tengah yang kosong. Aku merasa tidak enak di tempat tidur aku. “Bu kita pakai kamar tengah saja yaa”.

“Okey, Lebih bebas di kamar ini”, kata ibu mertua kakakku penuh pengertian. Aku remas pantatnya yang bahenol.

“Iich.., dasar anak nakal”, ibu mertua kakakku merengut manja.

Kami duduk di tempat tidur, sambil berciuman aku buka pakaian ibu mertua kakakku. Aku sungguh terpesona dengan kulit ibu yang putih bersih dan mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung indah. Ibu aku rebahkan di tempat tidur. Celana dalamnya aku tarik dan aku pelorotkan dari kakinya yang indah. Sekali lagi aku kagum melihat vagina ibu mertua kakakku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti aku membayangkan selama ini, vagina ibu mertua kk ku benar menonjol ke atas terganjal pantatnya yang besar. Aku tidak tahan lagi memandang keindahan ibu mertua kakakku telentang di depanku. Aku buka pakaianku dan penisku sudah benar-benar tegak sempurna. Ibu mertua kakakku memandangku dengan tanpa berkedip. Kami saling merindukan kebersamaan ini. Aku berbaring miring di samping ibu mertua kakakku. Aku ciumi, kuraba, kuelus semuanya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.

Aku remas lembut buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya aku main-mainkan. Liangnya vaginanya sudah basah. Jariku aku basahi dengan cairan vagina ibu mertua kakakku, dan aku usapkan lembut di clitorisnya. Ibu menggelinjang keenakan dan mendesis-desis. Sementara peliku dipegang ibu dan dielus-elusnya. Kerinduan kami selama ini sudah mendesak untuk ditumpahkan dan dituntaskan malam ini. Ibu menggeliat-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan akhirnya memegang penisku yang sudah siap sedia masuk ke liang vagina ibu mertua kakakku.

“Buu, aku kaangen banget buu…, aku kangen banget…, aku anak nakal buu..”, bisikku.

” …, ibu juga. sshh…, masukin …, masukin sekarang…, Ibu sudah pengiin banget …”, bisik ibu mertua kakakku tersengal-sengal.

Aku naik ke atas ibu mertua kakakku bertelakn pada siku dan lututku. Tangan kananku mengelus wajahnya, pipinya, hidungnya dan bibir ibu mertua kakakku. Kami berpandangan. Berpandangan sangat mesra. Penisku dituntunnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya memegang pantatku, menekan turun sedikit dan melepaskan tekanannya memberi komando penisku.

Kaki ibu mertua kakakku dikangkangnya lebar-lebar dan aku sudah tidak sabar lagi untuk masuk ke vagina ibu mertua kakakku. Kepala penisku mulai masuk, makin dalam, makin dalam dan akhirnya masuk semuanya sampai ke pangkalnya. Aku mulai turun naik dengan teratur, keluar masuk, keluar masuk dalam vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.

“Masukkan separo saja . Keluar-masukkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali”.

Nafsu kami semakin menggelora. Aku semakin cepat, semakin memompa penisku ke vagina ibu mertua kakakku.

“Buu, aaku masuk semua, masuk semua buu”

“Iyaa , enaak banget. Pelirmu ngganjel banget. Gede banget rasane. Ibu marem banget” kami mendesis-desis, menggeliat-geliat, melenguh penuh kenikmatan. Sementara itu kakinya yang tadi mengangkang sekarang dirapatkan.

Aduuh, vaginanya tebal banget. Aku paling tidak tahan lagi kalau sudah begini. Aku semakin ngotot menyetubuhi ibu mertua kakakku, mencoblos vagina ibu mertua kakakku yang licin, yang tebal, yang sempit (karena sudah kontraksi mau puncak). Bunyinya kecepak-kecepok membuat aku semakin bernafsu. Aduuh, aku sudah tidak tahan lagi.

“Buu aku mau keluaar buu…, Aduuh buu.., enaak bangeet”.

“ssh…, hiiya Ton, keluariin Ton, keluarin”.

“Ibu juga mau muncaak, mau muncaak…, Teruss Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami terhenti. Penisku aku tekan kuat-kuat ke dalam vagina ibu mertua kakakku.

Pangkal penisku berdenyut-denyut. menyemprotlah sudah spermaku ke vagina ibu mertua kakakku. Kami bersama-sama menikmati puncak persetubuhan kami. Kerinduan, ketegangan kami tumpah sudah. Rasanya lemas sekali. Napas yang tadi hampir terputus semakin menurun.
Aku angkat badanku. Akan aku cabut penisku yang sudah menancap dari dalam liang vaginanya, tetapi ditahan ibu mertua kakakku.

“Biar di dalam dulu. Ayo miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa’ orang ditindih sekuatnya”, katanya sambil memencet hidungku.

Kami miring berhadapan. Ibu mertua kakakku memencet hidungku lagi.

“Dasar anak kurang ajar…, Berani sama ibu mertua kakakmu ya.., Masa ibunya dinaikin, Tapi …, ibu nikmat banget, ‘marem’ banget. Ibu belum pernah merasakan seperti ini”.

“Buu, aku juga buu. Mungkin karena curian ini ya buu, bukan miliknya…, Punya bapaknya kok dimakan. Ibu juga, punya anakya kok ya dimakan, diminum”, kataku menggodanya.

“Huush, dasar anak nakal.., Ayo dilepas .., Aduuh berantakan niih. Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu juga basahi tetek ibu niih”.

“Buu, malam ini ibu nggak usah pulang. Aku pengin dikelonin ibu malam ini. Aku pengin diteteki sampai pagi”, kataku.

“Ooh jangan cah bagus…, kalau dituruti Ibu juga penginnya begitu. Tapi tidak boleh begitu. Kalau ketahuan orang bisa geger deeh”, jawab ibuku.

“Tapi buu, aku rasanya emoh pisah sama ibu”.

“Hiyya, ibu tahu, tapi kita harus pakai otak dong. Toh, ibu tidak akan kabur.., justru kalau kita tidak hati-hati, semuanya akan bubar deh”.

Kami saling berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman lagi penuh kelembutan. Tiada kata-kata yang keluar. Tidak dapat diwujudkan dalam kata-kata. Kami saling mengasihi, antara ibu dan anak, antara seorang pria dan seorang wanita, kami tulus mengasihi satu sama lain.

Malam itu kami mandi bersama, saling menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh ibu mertuaku, sampai tegak lagi.

“Sudaah, sudaah, jangan nekad saja. Ayo nanti keburu malam”.

Malam itu sungguh sangat berkesan dalam hidupku. Hari-hari selanjutnya berjalan normal seperti biasanya. Kami saling menjaga diri. Kami menumpahkan kerinduan kami hanya apabila benar-benar aman. Tetapi kami banyak kesempatan untuk sekedar berciuman dan membelai. Kadang-kadang dengan berpandangan mata saja kami sudah menyalurkan kerinduan kami. Kami semakin sabar, semakain dewasa dalam menjaga hubungan cinta-kasih kami.

 

Mertuaku: mantap banget

Namaku Heri, umurku sekarang ini 26 tahun. Ini adalah pengalamanku yang benar-benar nyata dengan ibu mertuaku. Umurnya belum terlalu tua baru sekitar 45th. Dulunya baru umur 18 tahun dia sudah kimpoi. Ibu mertuaku bentuk tubuhnya biasa-biasa saja malah boleh dikatakan langsing dan singset seperti perawan. Tak heran sebab hingga kini ia masih mengkonsumsi jamu untuk supaya selalu awet muda dan langsing.

Singkat cerita ketika istriku baru melahirkan anak pertama dan aku harus puasa selama sebulan lebih. Bisa dibayangkan sendiri bagaimana pusingnya aku. Hingga suatu saat aku mengantar Ibu mertuaku pulang dari menengok cucu pertamanya itu. Aku biasa mengantarnya dengan motorku. Namun kali itu turun hujan ditengah perjalanan. Karena sudah basah kuyup dan hari sudah menjelang tengah malam aku paksakan untuk menerobos hujan yang deras itu.

Setiba dirumah aku ingin segera membersihkan badan lalu menghangatkan badan. Di rumah itu hanya ada aku dan ibu mertuaku karena kakak iparku tinggal ditempat lain. Sedangkan adik iparku yang biasa menemani ibu mertuaku dirumah itu untuk sementara tinggal dirumahku untuk menjaga istriku.

“Kamu mandi aja deh sana, Her” Kata ibu mertuaku menyuruhku mandi.

“Ah.. nggak usah.. Ibu duluan deh” Kataku menolak dan menyuruhnya agar lebih dulu.

“Udah.. ibu disini aja” Kata ibu mertuaku yang memilih tempat cuci baju dan cuci piring diluar kamar mandi. Karena disitu juga ada air keran.

“Yah.. udah deh” Kataku sambil mendahuluinya masuk ke kamar mandi.

Suasana waktu itu agak remang-remang karena lampu penerangannya hanya lampu bohlam 5 watt. Aku iseng ingin tahu bentuk tubuh ibu mertuaku yang sebenarnya ketika ia telanjang bulat. Maka aku singkapkan sedikit pintu kamar mandi dan menontonnya melepas satu per satu bajunya yang sudah basah kuyup karena kehujanan. Dia tidak tahu aku menontonnya karena dia membelakangiku.

Aku perhatikan ia mencopot kaus T-shirt-nya ke atas melewati bahu dan lehernya. Lalu BH-nya dengan mencongkel sedikit pengaitnya lalu ia menarik tali BH-nya dan BH itupun terlepas. Adegan yang paling syur ialah ketika ia membuka celana panjang jeansnya. Sret.. celana jeans ketat itu ditariknya ke bawah sekaligus dengan CD-nya. Jreng..! Aku lihat kedua buah pantatnya yang kencang dan montok itu menantangku.

Aku yang sudah tak merasakan sex selama satu bulan lebih dan lagi dihadapkan dengan pemandangan seperti itu. Aku nekat untuk mendekatinya dan aku peluk dia dari belakang.

“Eh.. Her.. ini apa-apaan.. Her” hardik Ibu mertuaku.

“Bu.. tolongin saya dong, Bu” rayuku.

“Ih.. apaan sih..?!” Katanya lagi.

“Bu, udah dua bulan ini saya nggak dapet dari Dewi.. tolong dong, Bu” bujukku lagi.

“Tapi aku inikan ibumu” Kata Ibu mertuaku.

“Bu.. tolong, Bu.. please banget” rayuku sambil tanganku mulai beraksi.

Tanganku meremas-remas buah dadanya yang ukurannya sekitar 34B sambil jariku memelintir putting susunya. Bibir dan lidahku menjilati tengkuk lehernya. Tanganku yang satu lagi memainkan klentit-nya dengan memelintir daging kecil itu dengan jariku. Batang penisku aku tekan dilubang pantatnya tapi tidak aku masukkan. Ibu mertuaku mulai bereaksi. Tangannya yang tadi berusaha meronta dan menahanku kini sudah mengendor. Dia membiarkanku memulai dan memainkan ini semua. Nafasnya memburu dan mulai mendesah-desah.

“Dikamar aja yuk, Bu” bisikku.

Aku papah ibu mertuaku menuju kamarnya. Aku baringkan dia tempat tidur. Aku buka kedua kakinya lebar-lebar dan sepertinya Ibu mertuaku sudah siap dengan batang penisku. Tapi aku belum mau memulai semua itu.

“Tenang aja dulu, Bu. Rileks aja, Ok?” Kataku.

Aku mengarahkan mukaku ke liang vaginanya dan aku mulai dengan sedikit jilatan dengan ujung lidahku pada klentitnya.

“Ough.. sshhtt.. ough.. hmpf.. hh.. ooghh” Ibu mertuaku mendesah dan mengerang menahan kenikmatan jilatan lidahku.

Dia sepertinya belum pernah merasakan oral sex dan baru kali ini saja ia merasakannya. Terlihat reaksi seperti kaget dengan kenikmatan yang satu ini.

“Enak kan, Bu..?” Kataku

“Hmh.. kamu.. sshtt.. kamu.. koq.. gak jijik.. sih, Her?” Tanyanya ditengah-tengah desah dan deru nafasnya.

“Enggak, Bu.. enak koq.. gimana enak gak?”

“Hmh.. iyahh.. aduh.. sshhtt.. eenak.. banget.. Her.. sshhtt” jawab Ibu mertuaku sambil terus merintih dan mendesah.

“Itu baru awalnya, Bu” Kataku.

Kali ini aku kulum-kulum klentitnya dengan bibirku dan memainkan klentit itu dengan lidahku. Aku lihat sekujur tubuh ibu mertuaku seperti tersetrum dan mengejang. Ia lebih mengangkat lagi pinggulnya ketika aku hisap dalam-dalam klentitnya. Tak sampai disitu aku terobos liang vaginanya dengan ujung lidahku dan aku masukkan lidahku dalam-dalam ke liang vaginanya itu lalu aku mainkan liukkan lidahku didalam liang vaginanya. Seiring dengan liukanku pinggul ibu mertuaku ikut juga bergoyang.

“Ough.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh.. hmh.. ough.. shhtt.. ough.. hmh.. oufghh.. sshhtt”

Suara itu terus keluar dari mulut ibu mertuaku menikmati kenikmatan oral sex yang aku berikan. Aku sudahi oral sex ku lalu aku bangun dan berlutut dihadapan liang vaginanya. Baru aku arahkan batang penisku ke liang vaginanya tiba-tiba tangan halus Ibu mertuaku memegang batang penisku dan meremas-remasnya.

“Auw.. diapain, Bu..?” Tanyaku

“Enggak.. ini supaya bisa lebih tahan lama” Kata Ibuku sambil mengurut batang penisku.

Rasanya geli-geli nikmat bercamput sakit sedikit. Sepertinya hanya diremas-remas saja tetapi tidak ternyata ujung-ujung jarinya mengurut urat-urat yang ada dibatang penis untuk memperlancar aliran darah sehingga bisa lebih tegang dan kencang dan tahan lama.

“Guedhe.. juga.. punya kamu, Her” Kata ibu mertuaku sambil terus mengurut batang penisku.

“Iya dong, Bu” Kataku.

Kali ini kedua tangan ibu mertuaku beraksi mengurut batang penisku. Tangan yang satunya lagi mengurut-urut buah pelirku dan yang satu lagi seperti mengocok namun tidak terlalu ditekan dengan jari jempol dan telunjuknya. Tak lama kemudian.

“Egh.. yah.sudah.. pelan-pelan.. yah sayang” Kata ibu mertuaku sambil menyudahi pijatan-pijatan kecilnya itu dan mewanti-wantiku supaya tidak terlalu terburu-buru menerobos liang vaginanya.

Aku angkat kedua kaki Ibu mertuaku dan aku letakkan dikedua bahuku sambil mencoba menerobos liang vaginanya dengan batang penisku yang sedari tadi sudah keras dan kencang.

“Ouh.. hgh.. ogh.. pelan-pelan, Her” Kata Ibu mertuaku ditengah-tengah deru nafasnya.

“Iya, Bu.. sayang.. egh.. aku pelan-pelan koq” Kataku sambil perlahan-lahan mendorong penisku masuk ke liang vaginanya.

“Ih.. punya kamu guedhe banget, sayang.. ini sih.. gak normal” Katanya.

“Kan tadi udah diurut, Bu” Kataku.

Aku teruskan aksiku penetrasiku menerobos liang vaginanya yang kering. Aku tidak merasa istimewa dengan batang penisku yang panjangnya hanya 15cm dengan diameter sekitar 3 cm.

Dengan sedikit usaha.. tiba-tiba.. sleb..sleb..bless! Batang penisku sudah masuk semua dengan perkasanya kedalam liang vagina ibu mertuaku.

“Ough.. egh.. iya.. sshh.. pelan-pelan aja yah, sayang” Kata ibu mertuaku yang mewantiku supaya aku tidak terlalu terburu-buru.

Aku mulai meliukkan pinggulku sambil naik turun dan pinggul ibu mertuaku berputar-putar seperti penyanyi dangdut.

“Ough.. gilaa, Bu.. asyik.. banget..!” Kataku sambil merasakan nikmatnya batang penisku diputar oleh pinggulnya.

“Ough.. sshtt.. egh.. sshh.. hmh.. ffhh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. oughh” Ibu mertuaku tidak menjawab hanya memejamkan mata sambil mulutnya terus mendesah dan merintih menikmati kenikmatan sexual.

Baru sekitar 30 menit aku sudah bosan dengan posisi ini dan ingin berganti posisi. Ketika itu kami masih dalam posisi konvensional. Aku mau menawarkan variasi lain pada ibu mertuaku.

“Eh.. Ibu yang di atas deh” Kataku.

“Kenapa, sayang.. kamu capek.. yah..?” Tanyanya.

“Gak” jawabku singkat.

“Mo keluar yah.. hi.. hi.. hi..?” Godanya sambil mencubit pantatku.

“Gak.. ih.. aku gak bakalan keluar duluan deh” Kataku sesumbar.

“Awas.. yah.. kalo keluar duluan” Goda ibu mertuaku sambil meremas-remas buah pantatku.

“Enggak.. deh.. ibu yang bakalan kalah sama aku” Kataku sombong sambil balas mencubit buah dadanya

“Auw.. hi.. hi.. hi” Ibu mertuaku memekik kecil sambil tertawa kecil yang membuatku semakin horny.

Dengan berguling ke samping kini Ibu mertuaku sudah berada di atas tubuhku. Sambil menyesuaikan posisi sebentar ia lalu duduk di atas pinggulku. Aku bisa melihat keindahan tubuhnya perutnya yang rata dan ramping. Tak ada seonggok lemakpun yang menumpuk diperutnya. Buah dadanya juga masih kencang dengan putting susu yang mengacung ke atas menantangku. Aku juga duduk dan meraih putting susu itu lalu ku jilat dan ku kulum. Ibu mertuaku mendorongku dan menyuruhku tetap berbaring seolah-olah kali ini cukup ia yang pegan kendali. Ibu mertuaku kembali meliuk-liukkan pinggulnya memutar-mutar seperti Inul Daratista.

“Egh.. sshhtt.. ough.. sshhtt.. ough.. egh.. hmf” desah Ibu mertuaku.

“Gila, Bu.. enak banget..!”

“Ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku mendesah dan merintih sambil terus meliuk-liukkan pinggulnya memainkan batang penisku yang berada didalam liang vaginanya.

Tanganku meremas buah dadanya yang tak terlalu besar tapi pas dengan telapak tangan. Tanganku yang satunya lagi meremas buah pantatnya. Batang penisku yang kencang dan keras terasa lebih keras dan kencang lagi. Ini berkat pijatan dari Ibu mertuaku tadi itu. Bisa dibayangkan jika tidak aku sudah lama orgasme dari tadi.

“Ough.. sshtt.. emh.. enagh.. egh.. sshhtt.. ough.. iyaahh.. eeghh.. enak.. ough” liukan pinggul Ibu mertuaku yang tadinya teratur kini berubah semakin liar naik turun maju mundur tak karuan.

“Ough.. iiyyaahh.. egghh.. eghmmhhff.. sshhtt.. ough.. aku udah mo nyampe” Kata Ibu mertuaku.

“Bu.. aku juga pengen, Bu.. egh” Kataku sambil ikut menggoyang naik turun pinggulku.

“Egh.. iyah.. bagusshh.. sayangg.. ough.. sshhtt.. ough.. sshtt.. ough” Ibu mertuaku merespons gerakanku untuk membantunya orgasme.

Aku mempercepat goyanganku karena seperti ada yang mendesak dibatang penisku untuk keluar juga.

“Hmfh.. terusshh.. iyah.. ough.. oughh.. ough.. oughh.. ough.. oughh.. ough.. oughh.. ough.. oughh.. ” Ibu mertuaku telah sampai pada orgasmenya.

Pada batang penisku terasa seperti ada cairan hangat mengucur deras membasahi batang penisku. Ibu mertuaku menggelepar dan diakhiri dengan menggelinjang liar dan nafasnya yang tersengal. Ibu mertuaku telah berhenti melakukan liukan pinggulnya. Hanya denyutan-denyutan kencang didalam liang vaginanya. Aku merasakan denyutan-denyutan itu seperti menyedot-nyedot batang penisku dan.. crot.. crot..! muncrat semua air maniku diliang vagina Ibu mertuaku.

“Bu, kerasa nggak air mani saya muncratnya..?” Tanyaku.

“Eh.. iya, Heri sayang.. Ibu udah lama pengen beginian” Kata ibu mertuaku.

“Iya.. sekarang kan udah, Bu” Kataku sambil mengecup keningnya.

“Oh.. kamu.. hebat banget deh, Her” Kata Ibu mertuaku sambil membelai-belai rambutku.

“Itu semua kan karena Ibu” Kataku memujinya.

“Ih.. bisa aja.. kamu” sahut Ibu mertuaku sambil mencubit pinggulku.

Ibu mertuaku masih di atas tubuhku ketika HP-ku berbunyi ternyata dari istriku yang menyuruhku supaya menginap saja dirumah ibu mertuaku. Setelah telepon ditutup aku memekik kegirangan. Setelah itu kami melakukan pemanasan lagi dan melakukannya sepanjang malam hingga menjelang subuh kami sama-sama kelelahan dan tidur. Entah sudah berapa kali kami bersenggama dalam berbagai posisi. Pagi harinya kami masih melakukannya lagi dikamar mandi untuk yang terakhir lalu setelah itu aku sarapan dan pulang.

Bersama mama di taman

Mama saya seperti kebanyakan wanita wanita lain, sangat senang dengan tanaman. Di usianya yang separuh baya hampir sebagian waktunya dihabiskan untuk mengurusi bunga-bunganya yang nyaris memenuhi seluruh halaman rumah kami yang luas. Setiap sore mama selalu berada di halaman belakang terbungkuk – bungkuk merawat bunga-bunga kesayangannya. Jika liburan begini biasanya sepanjang sore kuhabiskan waktu untuk memperhatikan Mama.

Terus terang, saya senang sekali mencuri – curi pandang pada gundukan payudaranya yang hampir menyembul dari belahan dasternya dan pahanya yang sekali- sekali tersingkap jika mama menungging, atau memeknya yang membayang dari celana dalamnya yang jelas terlihat sewaktu Mama berjongkok. Sesekali dengan tidak sengaja mama membungkuk ke arahku yang lagi asyik duduk di gazebo. Kedua belah payudaranya yang tanpa bra hampir seluruhnya keluar dari leher dasternya. Kedua putting payudaranya jelas-jelas terlihat. Mungkin karena gerah mama tidak mengancingkan hampir separo kancing dasternya. Aku hanya bisa melongo, batang kontolku langsung ereksi. Kalau nggak cepat-cepat aku ngacir, mungkin mama bisa melihat separo batang kontolku yang udah keluar dari pinggang celanaku.

Suatu hari aku benar benar ketiban rezeki. Nggak sengaja mama memberikan tontonan yang membuatku terangsang berat. Seperti biasa aku sedang duduk duduk di gazebo bertelanjang dada seperti biasa, aku hanya memakai blue jeans ketat kegemaranku. Sambil mengembalikan kesadaranku maklum habis tidur siang, aku menemani mama di halaman belakang. Sambil ngobrol mengenai acara wisudaku, mama asyik dengan bunga-bunganya.

Entah kenapa, mungkin karena keasyikan ngobrol mama nggak sengaja jongkok tepat di depan mataku. Walaupun sedikit tertutup dengan tumpukan pupuk dan ranting-ranting daun, aku dengan jelas melihat gundukan memeknya, mulus tercukur tanpa satu helai rambut. Ya ampun, mungkin mama lupa memakai celana dalam !!!.

Kontan aku jadi terangsang luar biasa. Saking terpananya, aku nggak peduli lagi sama batang kontolku yang udah menerobos keluar, menjulang gagah sampai ke atas pusarku. Aku baru sadar sewaktu mama terbelalak melihat kontolku. Jelas-jelas saja mama kaget, saking panjangnya kontolku kalo lagi ereksi bisa sampe ke ulu hati. Dengan wajah merah karena jengah aku bangkit dan ngacir ke gudang belakang. Di tengah kegelapan kubuka resluiting jeansku dan mulai mengocok kontolku. Tiba tiba pintu terbuka, membelakangai sinar matahari sore – mama berdiri di pintu, tangan kanannya masih memegang sekop kecil. Mama menatap kontol raksasaku dan jembutku yang lebat kemudian menatap wajahku dan badanku yang kekar. Aku hanya bisa melongo tanpa berusaha menghentikan kocokanku.

“Ya ampun !” hanya itu yang keluar dari mulut mama entah apa yang dia maksudkan.

Kukocok sekali lagi kontolku, membiarkan mama melihat kedua tanganku yang menggenggam erat pangkal dan ujung kontolku yang mulai memerah. Kukocok lebih cepat lagi sementara tangan kananku menarik celana dalamku ke bawah biar mama melihat kedua biji kontolku yang bergerak ke sana ke sini seirama kocokanku pada batang kontolku. Terpana oleh pemandangan di depan matanya atau mungkin karena melihat ukuran kontolku yang super besar, mama beranjak masuk sambil menutup pintu gudang di belakangnya. Mama mendekatiku sambil mulai melepas satu persatu kancing dasternya dan kemudian melepaskannya. Benar ternyata mama tidak memakai bra. Kedua bulatan teteknya benar- benar membuatku terangsang walaupun sudah turun namun ukurannya hampir sebesar melon. Minimnya cahaya yang masuk ke gudang membuat kedua pentilnya tidak jelas terlihat warnanya. Mungkin coklat kehitaman.

Aku hanya bisa berkata lirih “Oh, Mama, tetek mama benar- benar hot!!”.

Dengan beberapa langkah, aku kedepan menyongsong mama sambil tanganku berusaha menggapai salah satu bulatan payudaranya. Sambil berjalan, kontolku tegak menjulang di udara. Aku benar-benar terangsang. Kupeluk pinggang mama, mulutku terbuka dan lidahku menjulur keluar. Ujung lidahku akhirnya menyentuh pentil susu mama yang besar dan kecoklatan.

Astaga… kontolku serasa akan meledak. Tergesa gesa, aku mengisap dan meremas teteknya yang lain dengan tanganku. Kontolku yang terjepit diantara perutku dan perut mama tiba tiba mengeras lalu… cruttttttt cruttttttt crutttttttttt.. semprotan demi semprotan kontolku meledak menyemburkan cairan putih kental membasahi sebagian perut dan tetek mama.

Tanpa perubahan ekspresi, mama dengan tenang menggenggam batang kontolku dan meremas ujungnya. Cairan maniku keluar lagi membasahi telapak tangannya. Di sela sela kenikmatan yang kurasakan aku hanya bisa menatap ke bawah. Air maniku membasahi seluruh tangan dan lengan mama, beberapa semprotan jatuh ke pangkal pahanya. Masih di tengah keremangan gudang, tanpa banyak kata-kata mama meraih tanganku dan menggosok-gosokan ke memeknya. Terasa gatal tanganku sewaktu telapak tanganku bergesekan dengan permukaan memeknya yang dipenuhi bulu-bulu pendek. Seumur hidupku baru kali inilah aku dapat melihat memek mama dari dekat. Belum ada lima menit, aku keluar lagi. Kali ini air maniku menyemprot tepat di permukaan memeknya. Kali ini mama memandangku sambil tersenyum. Aku jadi salah tingkah. Walaupun sudah dua kali aku keluar, batang kontolku masih keras bahkan semakin keras saja, agak sakit jadinya. Mama semakin membuatku terangsang dengan belaian-belaian tanganku pada memek dan kedua buah payudaranya. Aku membungkuk ke depan dan mulai mengulum tetek mama sementara tanganku yang lain meremas remas tetek yang lain. Membelai dan memencet pentilnya yang mengeras.

Kedua tangan mama menggenggam batang kontolku dan aku mendorong ke memeknya Di tengah desisannya mama melenguh ketika ujung kontolku menyentuh memeknya. Di tariknya tanganku ke dalam. Mama kemudian duduk di bibir bak mandi dan kemudian mengangkangkan pahanya. Kuhimpitkan badanku ke tubuh mama, wajahku kususupkan dicelah kedua bukit payudaranya. Kuhisap yang satu.. kemudian yang lain. Tangan mama lagi-lagi mencengkram batang penisku dan kemudian mendorongnya masuk ke dalam memeknya. Kurasakan hangat dan basah, dan kemudian kudorong dengan pinggulku, hampir setengahnya kemudian kurasakan sudah tidak bisa masuk lagi.

“Sshh…egh..!” Mama mendesis. Aku mulai memompa kontolku keluar dan masuk. Mulutku tetap mengulum kedua teteknya bergantian. Semakin lama semakin cepat aku memompa dan kemudian terasa aku akan keluar lagi. Mama mulai ikut memompa menyambut tusukkanku. Menggelinjang dan mengerang. Tidak berapa lama kemudian mama mengerang agak keras, dan aku bisa merasakan badannya tergetar sewaktu ia berteriak tertahan. Batang kontolku kemudian menjadi semakin basah saat cairan hangat dan kental keluar dari memeknya. Aku masih terus bertahan memompa dan kemudian sewaktu aku merasa akan keluar, kudekap pantat mama erat-erat dan kubenamkan batang kontolku sedalam dalamnya. Kontolku kemudian meledak. Semprotan demi semprotan air mani keluar, jauh ke dalam memek mama. Separuh orgasme, kutarik keluar dan kukocok. Air mani keluar lagi membasahi tetek mama. Kugosok – gosokkan ujung penisku di kedua pentilnya yang membesar. Kemudian kutekan kedua bulatan payudara mama dan menyusupkan batang kontolku di celah antara keduanya. Kugosok-gosokkan terus sampai air maniku berhenti keluar. Mama tersenyum, dagu, leher dan dada mama penuh dengan air maniku. Entah berapa banyak air mani yang kusemprotkan waktu itu. Pada semprotan yang terakhir aku melenguh keras. Takut jika ada yang mendengar, mama mendekap kepalaku di dadanya.

Setelah itu kukenakan blue jeansku sambil tersenyum malu aku keluar dari gudang itu. Sewaktu menutup pintu kulihat mama mengguyur tubuhnya dan mulai menyabuni pangkal pahanya. Sungguh sexy dan aku terangsang lagi. “Mandi berdua dengan Mama ? Wow !” pikirku. Aku masuk lagi ke dalam. Mama melihatku mengunci pintu dan tersenyum kearahku penuh arti.